MINGGU, 18 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Produksi Beras April 2026 Anjlok 16%, Alarm Dini u...

Ekonomi

Produksi Beras April 2026 Anjlok 16%, Alarm Dini untuk Pasar Pangan

BPS mencatat produksi beras April 2026 hanya 4,40 juta ton, ambles 16 persen dibanding April tahun lalu. Meski akumulasi Januari-April masih positif tipis, proyeksi hingga Juli justru di bawah capaian 2025.

Produksi Beras Masih Naik, Mengapa Hasil Panen April 2026 Justru Turun?

Produksi beras April 2026 dihajar kontraksi dua digit: hanya 4,40 juta ton, turun 16 persen dibandingkan April 2025 yang sempat menyentuh 5,23 juta ton. Selisihnya hampir 840.000 ton dalam satu bulan, angka yang tidak main-main untuk ukuran negeri yang masih bergulat dengan ketahanan pangan.

Pangkal masalahnya ada di luas panen. BPS mencatat realisasi panen padi April 2026 hanya 1,40 juta hektare, menyusut 0,26 juta hektare atau sekitar 15,47 persen dari April tahun sebelumnya yang mencapai 1,65 juta hektare. Ketika lahannya saja sudah berkurang segitu, produksi gabah ikut terseret. GKP April 2026 tercatat 9,13 juta ton, tergerus 16,15 persen dari 10,88 juta ton di April 2025. GKG-nya 7,63 juta ton, berkurang lebih dari 1,46 juta ton secara tahunan.

Yang menahan angka nasional dari zona merah sejauh ini adalah performa Januari hingga Maret yang cukup solid. Akumulasi produksi beras Januari-April 2026 mencapai 14,03 juta ton, sedikit di atas 14,01 juta ton pada periode sama tahun lalu. Kenaikannya cuma 16.810 ton atau 0,12 persen. Tipis, tapi belum merah.

Problema muncul ketika kita lihat proyeksi beberapa bulan ke muka. BPS memperkirakan total produksi beras Januari-Juli 2026 akan mencapai 21,95 juta ton, masih lebih rendah sekitar 80.000 ton dibanding realisasi periode sama tahun lalu yang sebesar 22,03 juta ton. Untuk padi GKP, proyeksi Januari-Juli 2026 ada di 45,58 juta ton, turun 0,28 persen dari 45,71 juta ton di 2025. Bukan angka dramatis, tapi arahnya tetap ke bawah. Pertanyaannya, seberapa jauh tren ini akan berlanjut?

Potensi panen Mei-Juli 2026 diestimasi mencapai 2,69 juta hektare, dengan produksi padi sekitar 16,45 juta ton GKP atau 13,75 juta ton GKG. Potensi produksi beras di tiga bulan itu sekitar 7,92 juta ton. Angka yang agaknya perlu dikawal, mengingat realisasi panen April saja sudah meleset cukup jauh dari tahun lalu.

Secara geografi, peta produksi tidak banyak berubah. Jawa masih mendominasi. Jawa Timur diproyeksikan menghasilkan 7,71 juta ton GKG selama Januari-Juli 2026, setara 4,45 juta ton beras konsumsi. Jawa Tengah menyusul dengan 6,70 juta ton GKG, lalu Jawa Barat 5,98 juta ton GKG. Di luar Jawa, Sumatera Selatan dengan 2,46 juta ton GKG, Lampung 1,99 juta ton GKG, dan Sumatera Utara 1,41 juta ton GKG masih jadi penopang utama.

Tapi di balik dominasi Jawa yang terlihat stabil, ada pergeseran yang layak dicermati. Jawa Timur justru menambah luas panen hampir 78.000 hektare dibanding tahun lalu, Jawa Tengah bertambah 34.425 hektare. Sebaliknya, Sumatera Utara kehilangan sekitar 68.933 hektare, Kalimantan Barat menyusut 38.359 hektare, Sulawesi Selatan berkurang 25.663 hektare. Ketimpangan ini bukan soal kecil. Mengandalkan Jawa terus-menerus untuk menambal defisit daerah lain, bak tumpuan yang makin berat sebelah, bukan strategi yang tangguh dalam jangka waktu panjang.

Soal metodologi, BPS menggunakan Survei Kerangka Sampel Area yang berjalan sejak 2018, dengan 31.313 titik sampel lahan tetap yang diamati tiap bulan lewat perangkat berbasis Android. Hasilnya dikirim langsung ke server pusat untuk diolah. Metodenya tergolong ketat, jadi angka-angka ini bukan sekadar taksiran kasar.

Buat pelaku pasar komoditas dan pengamat kebijakan pangan, yang relevan sekarang bukan lagi soal April yang sudah lewat. Yang perlu dikawal: seberapa akurat proyeksi Mei-Juli itu, dan apakah pemerintah punya ruang gerak cukup jika realisasinya kembali meleset.