Tiga kota, satu misi. Paris, Wina, Budapest, rute perjalanan Presiden Prabowo Subianto di penghujung Mei 2026, dan di balik agenda diplomatiknya tersimpan kalkulasi ekonomi yang tidak bisa dianggap enteng.
Indonesia datang ke meja negosiasi bukan dengan tangan kosong. Dengan cadangan nikel sekitar 65 persen dari total cadangan dunia, pemerintah agaknya sadar betul bahwa komoditas ini adalah tiket masuk ke industri kendaraan listrik global yang tengah berebut bahan baku. Juru Bicara Partai Gerindra Sugiat Santoso menegaskan, Prabowo hadir bukan sebagai peminta bantuan, melainkan sebagai pemegang kunci komoditas yang menentukan nasib industri otomotif masa depan Eropa.
Angka 65 persen itu bukan klaim kecil. Di saat produsen baterai dari Samsung SDI hingga CATL berlomba mengamankan pasokan nikel jangka panjang, posisi Indonesia di peta supply chain EV global sudah kuat secara struktural. Yang dibutuhkan sekarang adalah konversi kekuatan itu menjadi komitmen investasi nyata. Itulah yang coba dikerjakan Prabowo lewat kunjungan maraton ini.
Masing-masing negara punya peran spesifik dalam kalkulasi tersebut. Prancis dipandang sebagai pintu masuk kerja sama pertahanan dan teknologi di Eropa Barat, dengan kedekatan politik ke Élysée yang, menurut Sugiat, hanya bisa dibangun lewat kunjungan berulang dan konsistensi diplomasi. Austria dipetakan sebagai hub manufaktur presisi, dari mesin, otomotif, hingga pengolahan logam, yang relevan dengan agenda hilirisasi industri Indonesia.
Hungaria? Boleh jadi ini yang paling sengit dari sudut pandang investasi. Negara ini telah menjadi magnet agresif bagi pembangunan gigafactory baterai EV di Uni Eropa, dengan sejumlah produsen besar sudah atau sedang membangun fasilitas di sana. Masuk ke ekosistem ini berarti Indonesia bisa mengunci posisinya sebagai pemasok bahan baku ke pabrik-pabrik yang langsung menyuplai pasar Eropa. Rantai pasoknya pendek, marginnya lebih tebal.
Strategi diplomasi maraton ini, jujur saja, bukan tanpa risiko. Kunjungan tingkat tinggi memang membuka pintu, tapi komitmen investasi nyata masih panjang jalannya dari sekadar pertemuan dan foto bersama. Sejarah mencatat cukup banyak MoU yang ditandatangani dengan meriah lalu menguap tanpa realisasi. Familiar, bukan?
Yang membedakan narasi kali ini, setidaknya itu klaim Sugiat, adalah penekanan pada posisi tawar. Ia menyebut adanya "jendela peluang global" yang bisa tertutup, sebuah framing yang mengisyaratkan bahwa kompetisi untuk mengunci suplai nikel sedang berlangsung sengit antarkompetitor produsen. Kalau Indonesia tidak bergerak cepat, posisi strategis itu bisa direbut negara lain di rantai yang sama. Bak gayung bersambut, momentum geopolitik dan kebutuhan industri Eropa sedang bertemu di titik yang sama.
Bagi investor yang melirik emiten nikel dan ekosistem EV domestik, rangkaian kunjungan ini patut dipantau. Bukan karena hasilnya sudah pasti, tapi karena arah kebijakannya konsisten: hilirisasi nikel ke baterai bukan sekadar wacana, dan pemerintah tampaknya serius mencarikan pasarnya langsung dari sumbernya.