Presiden Prabowo Subianto datang ke Desa Tegalretno, Kebumen, Sabtu (23/5/2026), bukan sekadar untuk panen udang. Di depan warga dan deretan menteri yang mengikutinya, ia membeberkan laporan kemajuan pemerintahannya yang sudah berjalan 19 bulan, lengkap dengan klaim swasembada pangan dan ambisi menjadikan Indonesia produsen udang nomor satu di dunia.
Swasembada beras dan jagung, kata Prabowo, sudah tercapai. Klaim ini ia sampaikan langsung di hadapan warga Kebumen, dengan nada bersyukur sekaligus penuh optimisme. Untuk daging, termasuk telur dan ayam, ia mengakui masih butuh waktu. "Ini sedang kita kerjakan mungkin kita 4 tahun lagi, 5 tahun lagi kita swasembada daging," ujarnya.
Kunjungan kerja ini memusatkan perhatian pada proyek Budi Daya Udang Berbasis Kawasan (BUBK) Kebumen, sebuah kompleks tambak modern seluas 100 hektare di pesisir selatan Jawa yang diresmikan Maret 2023. Dari total lahan itu, 65 hektare sudah beroperasi penuh, dengan jaringan infrastruktur hidrologi yang tidak main-main: satu unit intake air laut, tandon utama tiga hektare, 50 unit tandon klaster, 139 kolam produksi, dan 17 instalasi pengolahan air limbah yang memastikan air buangan kembali ke laut dalam kondisi bersih.
Hasilnya terlihat di panen kedelapan ini. Produktivitas tambak udang vannamei Kebumen mencapai rata-rata 40 ton per hektare. Kelas dunia. Prabowo sendiri ikut menarik jaring berisi ratusan udang sebelum naik podium.
"Tadi, saya diberi laporan satu hektar bisa menghasilkan empat puluh ton. Luar biasa empat puluh ton ya, dan harganya sangat bagus. Harganya Rp 70.000 per kilo. Berarti per ton Rp 70 juta," ujar Prabowo. Tambak Kebumen juga sudah menyerap 650 warga lokal sebagai tenaga kerja, angka yang agaknya menjadi amunisi utama untuk menjual konsep ini ke daerah lain.
Ekspansinya memang tidak tanggung-tanggung. Pemerintah berencana membangun tambak serupa di Waingapu, Sumba Timur, NTT, seluas 2.000 hektare. Di Gorontalo, 200 hektare sedang dalam konstruksi. Yang paling ambisius adalah proyek di Pantura Jawa Barat, dirancang mencapai 14.000 hektare, jauh melampaui Kebumen. Kalau angka-angka itu terealisasi, klaim sebagai produsen udang terbesar di dunia bukan isapan jempol belaka.
Di sela agenda panen, Prabowo juga memperkenalkan Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) kepada warga Kebumen, dan menyebut lembaga itu kini mengelola 1.040 BUMN dengan total nilai aset Rp 17.000 triliun. Ia menunjuk langsung Doni Oskaria, Wakil Kepala BUMN sekaligus COO Danantara yang turut hadir, dengan pesan yang cukup tegas: jangan bocor.
"17.000 Triliun, waduh! Itu berapa itu? Jadi harus diurus baik-baik ya, Pak Doni sama semua stafnya. Jangan bocor. Jangan menguap uang itu, uang rakyat itu, ya," tegasnya.
Soal kebocoran, ini bukan pertama kalinya ia mengangkat isu itu di ruang publik. Prabowo mengakui Indonesia negara kaya, tapi terlalu banyak sumber daya alam yang diselundupkan ke luar negeri dan menggerus devisa. "Indonesia sungguh-sungguh sangat kaya, tapi terlalu banyak kekayaan kita bocor," katanya. Danantara, kata dia, dibentuk salah satunya untuk menyumbat kebocoran tersebut.
Sejumlah menteri turut mendampingi: Mensesneg Prasetyo Hadi, Seskab Teddy Indra Wijaya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, Menko Pangan Zulkifli Hasan, dan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin. Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi juga hadir.
Proyek BUBK Kebumen bisa dibaca sebagai prototipe, bak cetak biru yang sedang diuji tahannya. Pertanyaannya sekarang: seberapa cepat model ini bisa direplikasi di ribuan hektare lahan baru, dan apakah tata kelola yang ketat di Kebumen bisa dijaga ketika skalanya membesar sepuluh kali lipat?