SELASA, 29 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Prabowo: Indonesia Jual 500.000 Ton Pupuk ke Austr...

Bisnis

Prabowo: Indonesia Jual 500.000 Ton Pupuk ke Australia di Tengah Kepanikan Pasar Global

Di tengah krisis pupuk global akibat penutupan Selat Hormuz, Indonesia justru tampil sebagai pemasok, mengekspor 500.000 ton pupuk ke Australia senilai Rp 7 triliun. Australia, Filipina, India, Bangladesh, hingga Brasil kini antre minta pasokan dari Jakarta.

Prabowo Bangga Beras dan Pupuk RI Laris Manis Dibeli Negara Lain

Penutupan Selat Hormuz akibat eskalasi konflik di Timur Tengah membuat pasar pupuk global kalang kabut. Dua puluh persen suplai BBM dunia melintas di jalur itu, dan karena urea diproduksi dari gas alam, gangguan di selat tersebut langsung memukul rantai pasok pupuk secara global. Indonesia justru berada di sisi yang berbeda.

Sebanyak 500.000 ton pupuk diekspor ke Australia. Bukan negara sembarangan, Australia selama ini dikenal sebagai produsen komoditas andal, bukan pembeli pupuk dari tetangga selatannya. Nilai transaksinya? Rp 7 triliun, kalau data ini bisa dipercaya sebagai angka final.

Prabowo Subianto menyampaikan kabar ini saat meresmikan Museum Marsinah dan rumah singgah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026). Laporan datang langsung dari Menteri Pertanian Amran Sulaiman soal membludaknya permintaan pupuk dari luar negeri. "Sekarang saya dapat laporan dari Menteri Pertanian, banyak negara minta pupuk dari Indonesia. Kita tidak euforia, kita tidak sombong, tapi kita berada sekarang di pihak yang bisa memberi bantuan," ujar Prabowo.

Daftarnya panjang. Filipina, India, Bangladesh, Brasil, semua masuk radar permintaan. "Australia meminta tolong kita, kita jual ke Australia 500 ribu ton, Filipina minta ke kita, India minta ke kita, Bangladesh minta ke kita, Brasil minta ke kita. Perintah saya bantu semua," ungkap Prabowo. Kalimat yang terdengar ringan, tapi impikasinya bagi PT Pupuk Indonesia agaknya tidak kecil.

Momentum ini, kata Prabowo, bukan keberuntungan semata. Ia secara eksplisit mengaitkannya dengan keputusan awal pemerintah untuk ngebut menyelesaikan masalah ketahanan pangan domestik. Swasembada beras yang dicapai lebih cepat dari target memberi ruang surplus yang kini bisa dijual ke luar. "Bayangkan kalau kita tidak swasembada, kalau kita tidak buru-buru beresin masalah pertanian," katanya.

Beras pun ikut jadi komoditas yang diincar. Sejumlah negara antre membeli beras Indonesia, skenario yang setahun lalu sulit dibayangkan, mengingat Indonesia masih bergulat dengan isu impor beras di periode sebelumnya. Bak gayung bersambut, surplus produksi domestik tiba tepat saat dunia kekurangan pasokan.

Pertanyaannya, berapa lama tren ini bertahan? Itu tergantung seberapa lama ketegangan di Timur Tengah berlangsung dan seberapa cepat negara-negara penghasil pupuk berbasis gas bisa pulihkan rantai pasoknya. Untuk saat ini, Indonesia punya barang yang semua orang butuhkan. Posisi yang tidak biasa.