MINGGU, 11 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Prabowo di Harkopnas: Koperasi Sokoguru Ekonomi, P...

Ekonomi

Prabowo di Harkopnas: Koperasi Sokoguru Ekonomi, Pesimis Silakan Angkat Kaki

Presiden Prabowo Subianto tampil percaya diri di puncak Harkopnas ke-79, menegaskan koperasi sebagai kekuatan ekonomi akar rumput sekaligus melontarkan pernyataan yang bikin ruang Indonesia Arena mendadak hening.

Prabowo optimistis kebangkitan koperasi jadi kekuatan ekonomi RI

Puncak Hari Koperasi Nasional ke-79, Minggu (12/7/2026), berubah jadi panggung yang tidak biasa. Di hadapan ribuan hadirin di Indonesia Arena, Gelora Bung Karno, Presiden Prabowo Subianto tidak sekadar pidato soal simpan-pinjam dan rapat anggota tahunan. Ia bicara soal arah ekonomi Indonesia, persatuan nasional, dan satu kalimat yang langsung jadi bahan obrolan: warga yang merasa Indonesia suram dipersilakan mencari negara lain.

"Yang ragu-ragu silakan duduk di rumah aja. Yang merasa Indonesia suram, silakan kalau mau cari negara lain. Silakan, tidak ada yang melarang," ucap Prabowo, sebelum melanjutkan dengan seruan gotong royong. Terdengar provokatif di permukaan. Tapi konteksnya jelas: Prabowo sedang mendorong narasi optimisme ekonomi, dan ia tidak mau nada pesimis ikut berkemah di dalam tenda besar gerakan koperasi.

Ini bukan sekadar retorika seremonial. Prabowo menempatkan koperasi sebagai instrumen distribusi ekonomi yang selama ini belum berjalan optimal. Sebagian kekayaan yang dihasilkan rakyat, ia nilai, belum sepenuhnya kembali ke masyarakat. Koperasi adalah mekanisme untuk menutup kebocoran itu. Aktivitas ekonomi harus tumbuh dari desa, kecamatan, lalu kabupaten. Bukan sebaliknya.

"Gerakan koperasi Indonesia akan bangkit menjadi kekuatan ekonomi Indonesia, kekuatan ekonomi yang tidak akan bawa uang lari dari Indonesia," tegasnya. Kalimat terakhir itu bisa dibaca sebagai sindiran halus terhadap model bisnis ekstraktif yang hasilnya mengalir ke luar negeri. Bak gayung bersambut dengan agenda pemerintah yang belakangan gencar mendorong hilirisasi.

Prabowo cepat memasang disclaimer. Penguatan koperasi bukan berarti perang terhadap korporasi. "Saya ingatkan, kita tidak anti perusahaan besar. Karena Indonesia ini negara besar, kita butuh koperasi, kita butuh UMKM, kita butuh swasta, kita butuh BUMN, BUMD. Kita butuh semuanya," ujarnya. Konsep yang ia sebut Indonesia Incorporated: sinergi antar semua pelaku ekonomi tanpa ada yang dimatikan.

Hadir dalam acara itu sejumlah wajah dari lingkaran pertahanan dan keamanan negara. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Jaksa Agung ST Burhanuddin, Menko Polkam Jenderal (Purn) Djamari Chaniago, dan Kepala BIN Letjen (Purn) Muhammad Herindra. Kelimanya hadir mengenakan batik bermotif berbeda, sempat berfoto bersama sebelum acara dimulai. Komposisi yang tidak lazim untuk peringatan hari koperasi, agaknya memang disengaja sebagai sinyal bahwa agenda ini bukan sekadar urusan kementerian teknis.

Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Bambang Haryadi menyambut antusias kehadiran Prabowo. "Baru dalam pemerintahan Bapak Presiden gerakan koperasi di Indonesia mendapat perhatian dan menjadi program prioritas ekonomi masyarakat," katanya. Klaim yang masih perlu dibuktikan lewat realisasi kebijakan konkret, bukan sekadar pidato di atas panggung.

Prabowo juga menyinggung soal karakter bangsa. Tidak dengki, tidak suka mencaci, saling memaafkan. Ia meyakini pertikaian tidak pernah menghasilkan kemakmuran. "Tidak ada keberhasilan dengan pertikaian. Tidak ada. Kita ini satu keluarga," katanya. Lalu ia menambahkan satu kalimat yang terdengar seperti evaluasi jujur terhadap dunia politik: semua partai punya patriot, dan semua partai punya bajingannya juga. Jujur. Segar. Dan agak mengejutkan keluar dari mulut seorang presiden di acara resmi.

Bagi pelaku pasar, agenda koperasi Prabowo patut dipantau lebih dekat. Kalau penguatan koperasi desa benar-benar dieksekusi lewat kebijakan fiskal dan regulasi yang mendukung, ada potensi perputaran konsumsi di tingkat lokal yang selama ini belum tertangkap. Pertanyaannya bukan soal niat. Mekanisme dan anggarannya, itulah yang akan bicara.