Selama 18 bulan Danantara beroperasi, 250 perusahaan BUMN sudah ditutup, dimerger, atau dikonsolidasi. Dari langkah itu saja, pemerintah mengklaim Rp 50 triliun overhead berhasil diselamatkan dari pos-pos yang selama ini diam-diam menggerus kas negara.
Pencapaian ini diumumkan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Senin (20/7/2026). Dari total 1.077 BUMN yang ada, per 31 Juli jumlahnya sudah berkurang 250 unit. Target berikutnya tidak main-main: per 31 Desember 2026, Danantara menyanggupi hanya akan ada maksimal 350 BUMN tersisa. Artinya, sekitar 727 entitas lagi harus dilipat sebelum tahun ini tutup buku.
Rp 50 triliun itu bukan dari pendapatan baru. Melainkan dari biaya yang selama ini rutin dikucurkan: gaji direksi dan komisaris, sewa gedung, tagihan listrik, transportasi, sampai rapat kerja yang tak terhitung. Sepintas kecil per entitas, tapi dikalikan ratusan perusahaan, angkanya lumayan bikin mata terbelalak. Jika 700-an BUMN lagi berhasil dirampingkan sebelum Desember, Prabowo memproyeksikan penghematan bisa mendekati Rp 70 hingga Rp 80 triliun.
"Saya mau berterima kasih, saya bangga pimpinan daripada Danantara, dalam tahun pertama 18 bulan pertama sudah berhasil mengurangi jumlah tersebut dari 1.077," ujar Prabowo. Ia bahkan berkelakar kepada Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan, mempertanyakan apakah ada negara lain di dunia yang sanggup menutup 250 BUMN hanya dalam satu tahun. Riuh tawa para menteri yang hadir menjadi jawabannya.
Di luar narasi pemangkasan, Prabowo juga menyebut Danantara sebagai pencapaian bersejarah. Indonesia, klaimnya, untuk pertama kali memiliki dana kedaulatan dengan nilai aset melampaui USD 1.000 miliar, setara lebih dari Rp 16.000 triliun di kurs saat ini. Danantara diposisikan bukan sekadar lembaga konsolidasi, melainkan sebagai "cadangan energi" untuk generasi mendatang, tempat kekayaan negara dikumpulkan dan dikelola secara terpusat. Setidaknya itu klaim manajemen.
26 proyek hilirisasi dengan total nilai investasi Rp 225 triliun tengah digarap lembaga ini, diproyeksikan menyerap 37.833 tenaga kerja. Bukan angka yang main-main. Proyek dibagi dua fase: fase pertama lewat groundbreaking 6 Februari 2026 mencakup enam proyek di 13 lokasi senilai Rp 109 triliun, menyerap 11.456 tenaga kerja. Fase kedua, groundbreaking 29 April 2026, meliputi 10 proyek di 13 lokasi senilai Rp 116 triliun dengan proyeksi serapan 26.377 pekerja. Cakupannya luas, dari smelter aluminium, baja nirkarat, dan tembaga, sampai fasilitas bioavtur, bioetanol, pengolahan kelapa sawit, industri kelapa, hingga peternakan ayam terintegrasi.
Pertanyaannya, bagaimana konsolidasi besar-besaran ini akan berdampak pada emiten BUMN yang sudah tercatat di bursa? Merger dan penggabungan skala ini biasanya membawa efek berantai, dari restrukturisasi kepemilikan saham, perubahan struktur utang, hingga potensi rights issue. Bagi investor yang memegang saham pelat merah, ini bukan sekadar berita dari Istana, ini bisa langsung menyentuh valuasi portofolio mereka.