KAMIS, 15 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  PMI Manufaktur China Stagnan di Mei, Pesanan Ekspo...

Ekonomi

PMI Manufaktur China Stagnan di Mei, Pesanan Ekspor Amblas ke Zona Merah

Indeks manajer pembelian manufaktur China tercatat tepat di angka 50 pada Mei 2026, dengan pesanan ekspor baru amblas ke 48,6, sinyal bahwa permintaan global mulai menggerus mesin produksi terbesar dunia.

Permintaan Global Melemah, Pesanan Ekspor China Jatuh ke Zona Kontraksi

Angka 50 itu terlihat netral. Tapi bagi pelaku pasar yang paham konteksnya, PMI manufaktur China yang mangkrak tepat di batas ekspansi-kontraksi pada Mei 2026 justru menjadi sinyal yang tidak bisa diabaikan begitu saja, terutama ketika komponen pesanan ekspor baru amblas jauh ke bawah garis tersebut.

Biro Statistik Nasional China (NBS) merilis data Minggu (31/5/2026): PMI manufaktur turun dari 50,3 di April menjadi 50 di Mei. Sesuai konsensus ekonom, memang. Tapi ini level terendah dalam tiga bulan terakhir, dan melanjutkan tren perlambatan setelah data April yang juga mengecewakan, produksi industri dan penjualan ritel keduanya mencatat kenaikan terlemah dalam beberapa tahun.

Yang lebih mengkhawatirkan justru ada di balik angka headline itu. Indeks pesanan baru turun ke 49,9, masuk zona kontraksi. Pesanan ekspor baru merosot lebih dalam ke 48,6 dari 50,3 sebulan sebelumnya. Permintaan luar negeri terhadap produk manufaktur China bukan sekadar melambat, tapi sudah menyusut.

Analis China Logistics Information Center, Wen Tao, menyebut pelemahan permintaan global terlihat cukup menonjol, terutama akibat kontraksi yang signifikan pada ekspor sektor manufaktur barang konsumsi. Kontraksi di segmen itu, menurut Wen, jadi sumber tekanan terbesar saat ini. Sisi pasokan memang masih terjaga, dengan indeks produksi di 51,2, tapi tanpa permintaan yang memadai, kapasitas produksi besar hanya akan menumpuk sebagai stok.

Tekanan tidak datang dari satu arah. Biaya produksi ikut menghantam margin. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah mengguncang jalur pelayaran di Selat Hormuz dan mendorong lonjakan harga energi global. Indeks harga bahan baku dalam survei PMI turun ke 60,5 dari 63,7, tapi angka itu masih jauh di atas 50. Tekanan biaya input belum reda. Wen menambahkan, kenaikan harga bahan baku ikut mendorong harga produk jadi naik, yang menggerus margin industri.

Ada faktor lain yang agaknya belum cukup mendapat perhatian: yuan. Penguatan mata uang China yang berkelanjutan menekan eksportir dalam skala yang jarang terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Hampir seperempat dari sekitar 5.500 perusahaan yang tercatat di bursa domestik melaporkan kerugian nilai tukar atau menyebut fluktuasi mata uang sebagai faktor utama yang mengerek biaya keuangan, berdasarkan data Bloomberg dari laporan keuangan kuartal pertama. Porsi itu tertinggi setidaknya dalam satu dekade. Tidak main-main.

Namun tidak semua suram. Manufaktur berteknologi tinggi dan industri peralatan justru tumbuh lebih kuat, dengan PMI masing-masing di 52,9 dan 52,1. Permintaan semikonduktor dan produk terkait kecerdasan buatan masih deras, sebagian didorong ekspansi pusat data global. Goldman Sachs dan Nomura memperkirakan penjualan luar negeri China untuk produk semikonduktor, komputer, dan AI menyumbang sekitar separuh dari pertumbuhan ekspor April. Eksportir di segmen ini hidup di dunia yang berbeda dibanding rekan mereka di sektor barang konsumsi.

Sektor nonmanufaktur juga memberi sedikit keringanan. PMI jasa dan konstruksi naik ke 50,1 dari 49,4, dengan indeks aktivitas jasa mencapai 50,3, level tertinggi dalam sembilan bulan terakhir. Lonjakan itu terkerek oleh belanja perjalanan selama libur panjang Hari Buruh awal Mei. Beijing memang sedang mendorong konsumsi domestik, termasuk menerbitkan rencana perluasan akses layanan publik seperti pendidikan dan kesehatan di kota-kota besar untuk menarik pekerja migran dan meningkatkan belanja rumah tangga.

Bank sentral China sudah bergerak lebih jauh: suku bunga pinjaman kebijakan satu tahun dipangkas ke level terendah sepanjang sejarah pada Mei. Di front diplomatik, pertemuan Trump dan Xi menghasilkan pembentukan dua komite baru di bidang perdagangan dan investasi. Dewan Perdagangan AS-China berupaya menurunkan tarif atas sedikitnya US$30 miliar barang dari masing-masing negara. Hasilnya masih di atas kertas, tapi setidaknya ada sinyal bahwa tekanan dari front perang dagang tidak akan semakin parah dalam waktu dekat.

Pertanyaannya, entah kebetulan atau tidak: apakah stimulus moneter dan diplomasi perdagangan itu cukup untuk mengimbangi perlambatan permintaan global yang mulai menggigit? Data Mei ini memberi jawaban yang belum memuaskan.