KAMIS, 15 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  PMI Manufaktur China Nyaris Stagnan di Mei, Moment...

Ekonomi

PMI Manufaktur China Nyaris Stagnan di Mei, Momentum Kuartal Pertama Mulai Habis Napas

PMI manufaktur China bertahan tipis di zona ekspansi pada Mei, tapi pesanan ekspor sudah masuk wilayah kontraksi. Momentum kuat kuartal pertama tampaknya tidak berlanjut.

Aktivitas Manufaktur China Memburuk, Sinyal Buat Perekonomian - Global

PMI manufaktur China terpeleset ke level 50 pada Mei, tepat di ambang antara ekspansi dan kontraksi, turun dari 50,3 di bulan sebelumnya. Pas dengan konsensus ekonom survei Bloomberg? Ya. Kabar baik? Tidak juga, terutama ketika pesanan ekspor sudah amblas ke bawah 50.

Biro Statistik Nasional China merilis data itu Minggu lalu, mengonfirmasi apa yang sudah dicurigai banyak pelaku pasar sejak beberapa pekan terakhir: mesin pertumbuhan China mulai kehabisan bahan bakar. Kuartal pertama memang impresif. Tapi daya dorong itu, agaknya, tidak otomatis merembet ke kuartal berikutnya.

Pesanan ekspor jatuh ke zona kontraksi. Bukan sinyal kecil. Permintaan global yang lesu jadi penyebab utama, diperparah tekanan biaya bahan baku yang sebagian dipicu konflik yang masih membara di Timur Tengah. Libur panjang lima hari sepanjang Mei ikut mengganggu ritme produksi, meski dampaknya sulit dipisahkan dari faktor struktural yang lebih dalam.

Angin segar, kalau bisa disebut begitu, datang dari sektor nonmanufaktur. Indikator aktivitas di segmen konstruksi dan jasa naik ke 50,1 dari 49,4 pada April, melampaui ekspektasi. Bagi investor yang menaruh perhatian pada sisi produksi dan perdagangan, angka itu belum cukup untuk menutup kekhawatiran di sektor pabrikan. Ibarat pedang bermata dua: satu sisi cerah, satu sisi masih perlu diwaspadai.

Pertanyaannya sekarang: gangguan sesaat, atau awal tren perlambatan yang lebih panjang? Kalau pesanan ekspor tidak segera pulih dalam beberapa bulan ke depan, tekanan terhadap aktivitas industri China bisa terus menggigit hingga paruh kedua tahun ini. Pasar komoditas global, termasuk sejumlah emiten berbasis ekspor di bursa domestik, punya alasan untuk tidak terlalu santai mencermati perkembangan ini.