Realisasi investasi Indonesia sepanjang semester pertama 2026 menembus angka psikologis Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2% secara tahunan. Cukup untuk membuat pemerintah bernapas lega, setidaknya di atas kertas.
Tapi angka agregat sering menyembunyikan lebih banyak dari yang diungkapkannya. Kalau dibelah, ada dua cerita yang saling bertolak belakang di dalam laporan ini.
Di sisi Penanaman Modal Asing (PMA), arus masuk tetap deras. Singapura memimpin dengan kontribusi US$8,8 miliar, disusul Hong Kong US$7,6 miliar, China US$3,9 miliar, Jepang US$1,9 miliar, dan Amerika Serikat US$1,7 miliar. Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani Perkasa, dalam konferensi pers di Istana Negara Kamis (16/7) lalu, mengingatkan bahwa angka-angka ini tidak boleh dibaca mentah-mentah. Banyak modal yang tercatat masuk dari Singapura atau Hong Kong sebenarnya berasal dari China, Korea Selatan, atau negara lain yang memakai pusat keuangan regional sebagai pintu masuk ke Indonesia. "Kalau kita lihat memang yang dari Hong Kong ini sebetulnya tetap asalnya kebanyakan memang dari China juga," kata Rosan.
Pola ini lumrah di dunia investasi global. Perusahaan mendirikan entitas holding di hub keuangan seperti Singapura atau Hong Kong, lalu dari sana menanamkan modal ke negara tujuan. Karena pencatatan dilakukan berdasarkan domisili legal entitas, bukan ultimate beneficial owner, komposisi negara asal investasi di laporan resmi jadi agak misleading. Rosan bilang, meski begitu, iklim investasi Indonesia tetap menarik karena internal rate of return yang ditawarkan masih "sangat acceptable" bagi investor asing maupun domestik.
Nah, soal domestik inilah masalahnya.
Realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) pada kuartal II-2026 mencapai Rp254,1 triliun, anjlok 7,8% dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp275,5 triliun. Kumulatif semester I-2026, PMDN terealisasi Rp502,9 triliun, menyusut 1,5% dari Rp510,3 triliun di semester I-2025. Porsi PMDN terhadap total investasi nasional pun amblas, dari 54,1% menjadi 49,8%. Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, investor asing berkontribusi lebih besar dari investor lokal.
Kepala Ekonom BCA David Sumual menyebut kontraksi ini bukan kebetulan. Pelaku usaha domestik, menurutnya, memang tengah menahan ekspansi sejak paruh pertama tahun ini, terjepit antara harga input yang naik lebih cepat dari harga jual, pelemahan permintaan ekspor, dan de-stocking setelah lonjakan inventori kuartal sebelumumnya. "Pelaku usaha memang cenderung menahan ekspansi sejak semester I-2026. Pelemahan marjin akibat harga barang input yang naik lebih tinggi dibanding harga jual, penurunan permintaan terutama untuk ekspor, dan de-stocking setelah lonjakan inventori pada kuartal sebelumnya menjadi penyebab penurunan ekspansi usaha," ujar David kepada Kontan, Jumat (17/7).
Yang lebih mengkhawatirkan: kondisi ini mulai dipersepsikan sebagai tantangan struktural, bukan sekadar siklus pendek yang akan pulih sendiri. Sudah ada tanda-tanda pengurangan tenaga kerja di sejumlah perusahaan. Kalau data ini bisa dipercaya sebagai sinyal awal, angkanya patut dicermati.
David juga memperingatkan soal paradox of thrift. Ketika banyak korporasi secara bersamaan memangkas belanja, investasi, dan perekrutan, roda ekonomi justru melambat. Ibarat semua orang berhemat serentak, tidak ada yang menggerakkan pasar. Kalau skenario ini terwujud, kontraksi PMDN berpotensi berlanjut hingga semester II.
Dari sisi dunia usaha, Ketua Umum Apindo Shinta Widjaja Kamdani menegaskan bahwa dalam situasi ketidakpastian global seperti sekarang, kepastian kebijakan pemerintah menjadi variabel yang kian krusial. Investor, kata Shinta, kini mengambil pendekatan selektif dan pruden, mencermati arah kebijakan ekonomi sebelum berani mengambil keputusan ekspansi jangka panjang.
Total investasi semester I-2026 menyerap 1,44 juta tenaga kerja. Angka yang solid. Tapi dengan PMDN menyusut dan pelaku usaha lokal yang agaknya belum siap kembali agresif, separuh kedua 2026 akan menguji seberapa kuat pondasi investasi Indonesia sesungguhnya. Pertanyaannya, berapa lama PMA bisa menutup lubang yang ditinggalkan investor domestik?