SENIN, 5 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  PIPA Finalisasi Akuisisi Pengolah Gas, Bidik Margi...

Bisnis

PIPA Finalisasi Akuisisi Pengolah Gas, Bidik Margin EBITDA 60%

PT Oxala Energy International Tbk (PIPA) tengah memfinalisasi akuisisi perusahaan pengolahan migas beraset Rp476 miliar dengan kontrak jumbo di atas USD100 juta, sebagai bagian transformasi besar dari produsen pipa PVC menjadi pemain energi.

Integrasi Layanan Kesehatan Berbasis Teknologi Diperluas

Satu dekade lebih setelah lahir sebagai produsen pipa PVC, PT Oxala Energy International Tbk (PIPA) kini selangkah lagi mengunci akuisisi yang bisa mengubah wajah bisnisnya secara fundamental.

Perseroan mengumumkan sedang dalam tahap finalisasi rencana pengambilalihan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan minyak dan gas bumi. Pemegang saham pengendali, PT Morris Capital Indonesia (MCI), menyampaikan dukungan resmi melalui surat kepada Dewan Komisaris tertanggal 18 Agustus 2026. Target ambisius sudah ditetapkan: penandatanganan Conditional Share Purchase Agreement (CSPA) diselesaikan bulan ini juga.

Perusahaan target bukan pemain kemarin sore. Sudah 14 tahun beroperasi, awalnya di jalur perdagangan alat teknik, konstruksi, dan konsultan engineering dengan omzet sekitar Rp40 miliar per tahun. Angka yang, jujur saja, tidak terlalu mengesankan. Tapi sejak 2025, perusahaan itu banting setir ke pengolahan migas dan langsung mengantongi kontrak strategis senilai lebih dari USD100 juta, sekitar Rp1,6 triliun. Salah satu kontrak pengolahan gas bumi bahkan dijalankan bersama sebuah BUMN.

Dari sisi neraca, total aset perusahaan target tercatat Rp476 miliar per 31 Desember 2025 dan diproyeksikan nyaris dua kali lipat menjadi Rp920 miliar pada akhir tahun ini. Proyeksi pendapatan dipatok sekitar Rp250 miliar per tahun dengan margin EBITDA 60 persen. Untuk ukuran sektor energi hulu-hilir, angka margin segitu bukan sesuatu yang bisa diabaikan.

"Sejak tahun 2025, Perusahaan Target melakukan ekspansi ke bidang pengolahan minyak dan gas bumi dengan perolehan kontrak strategis bernilai lebih dari USD100 juta," kata Corporate Secretary PIPA Haerul Maelani dalam keterbukaan informasi kepada Bursa, Rabu (19/8/2026).

Opsi pendanaan masih dikaji. Rights issue, penerbitan surat utang, atau kombinasi mekanisme lain yang sesuai regulasi, semuanya masih di atas meja. RUPSLB untuk meraih restu pemegang saham ditargetkan paling lambat Maret 2027, setelah seluruh proses due diligence, valuasi, serta persetujuan OJK dan BEI tuntas.

Haerul menegaskan seluruh proses tunduk pada POJK No. 31/2015, POJK No. 17/2020 tentang Transaksi Material, dan POJK No. 9/2018 tentang Pengambilalihan Perusahaan Terbuka. Klaim kepatuhan yang masih perlu dibuktikan dalam praktiknya, mengingat PIPA punya sejarah yang tidak mulus di mata regulator.

Konteks historis ini penting. PIPA lahir dari PT Multi Makmur Lemindo Tbk, produsen pipa PVC yang pada awal 2026 tersandung kasus dugaan manipulasi IPO. Bareskrim Polri menetapkan tiga tersangka, berasal dari internal perusahaan dan mantan pejabat BEI. OJK menjatuhkan sanksi denda Rp1,85 miliar atas kesalahan material penyajian laporan keuangan 2023, khususnya pengakuan aset dari dana IPO tanpa bukti dan hasil yang memadai.

MCI masuk sebagai pengendali baru pada 2025. Manajemen baru memutus seluruh relasi dengan pihak-pihak yang terlibat kasus tersebut, lalu memimpin transformasi besar-besaran. Puncaknya pada RUPSLB 8 Juli 2026, ketika pemegang saham merestui pergantian nama menjadi PT Oxala Energy International Tbk sekaligus menaikkan modal dasar dari Rp200 miliar menjadi Rp274 miliar, setara dari 10 miliar menjadi 13,7 miliar lembar saham, sebagai amunisi rights issue.

Nama "Oxala" bukan dipilih sembarangan. Direktur Noprian Fadli menyebut nama itu hasil kajian bersama konsultan profesional, mengandung filosofi memulai sesuatu yang baru dengan niat baik dan harapan keberkahan. Filosofis memang. Pasar, agaknya, lebih menunggu angka nyata.

Bisnis pipa PVC tetap dipertahankan sebagai lini pendukung. Kalau akuisisi ini berjalan mulus, kontribusi bisnis migas ditargetkan melampaui 50 persen dari total pendapatan dalam beberapa tahun mendatang. Batu loncatan terbesar, entah kebetulan atau tidak, datang tepat di saat perusahaan baru saja mengganti nama.