SABTU, 3 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  PHK Massal Tokopedia: ByteDance Sisakan 10% Karyaw...

Bisnis

PHK Massal Tokopedia: ByteDance Sisakan 10% Karyawan, Dublin Menyusul

Gelombang PHK di Tokopedia kian mengeras. ByteDance diduga hanya menyisakan sekitar 10% karyawan di Indonesia, sementara TikTok juga bersiap memangkas 300 orang di Dublin.

Badai PHK di Tokopedia Usai Dicaplok TikTok

Sejak TikTok resmi mencaplok 75% saham Tokopedia pada akhir 2023, e-commerce berlogo hijau itu tak pernah benar-benar berhenti dirundung kabar PHK. Kali ini skalanya jauh lebih besar.

Awal Juli 2026, media sosial ramai oleh unggahan akun Instagram @ecommurz yang menyebut ByteDance, induk usaha TikTok, hanya akan menyisakan sekitar 10% karyawan Tokopedia. Artinya, sekitar 90% dari total tenaga kerja dipangkas. Angka yang, kalau benar, menjadikan ini babak paling brutal dalam sejarah singkat integrasi dua raksasa digital ini.

TikTok tidak membantah adanya restrukturisasi, tapi juga tidak mengonfirmasi angka 90 persen itu. Juru bicara perusahaan hanya menyatakan mereka sedang menyelaraskan organisasi riset dan pengembangan (R&D) pada ranah yang dinilai bisa mendorong pertumbuhan jangka panjang. "Ini bukan keputusan yang mudah, dan kami fokus untuk memberikan dukungan kepada rekan-rekan kami yang terdampak selama masa transisi ini," ujarnya. Kalimat yang terasa seperti template korporat, tapi setidaknya mengakui ada karyawan yang terdampak.

Sepanjang 2024 dan 2025, pemangkasan sudah berlangsung bertahap. Sekitar Juni 2024, ByteDance merumahkan 450 karyawan Tokopedia, tak lama setelah merogoh kocek US$1,5 miliar untuk menggabungkan TikTok Shop dengan platform lokal itu. Setahun berselang, Juli hingga Agustus 2025, giliran 420 karyawan lagi yang terkena giliran, 180 orang di bulan Juli, 240 di bulan Agustus. Divisi yang kena: IT, customer care, fulfillment, hingga gudang. Tim teknis yang tersisa pun dilaporkan dipindahkan ke bawah koordinasi langsung TikTok China.

Alasannya blak-blakan: Tokopedia dianggap "gemuk". Ketika TikTok Shop dan Tokopedia kini bergerak di lini bisnis yang sama, banyak fungsi tumpang tindih. Logis dari sudut pandang efisiensi, tapi bagi ribuan karyawan yang kehilangan pekerjaan, argumen itu agaknya terasa kurang menghibur.

Badai ini rupanya tidak berhenti di Jakarta. Di Dublin, Irlandia, TikTok dilaporkan sedang mempertimbangkan pemangkasan sekitar 300 karyawan di bidang kepercayaan dan keamanan platform. Juru bicara TikTok menyebut langkah ini sebagai bagian dari "reorganisasi untuk memperkuat model operasional global", termasuk upaya memastikan tim tetap gesit. Bukan kali pertama Dublin kena: tahun lalu, kota yang sama kehilangan sekitar 10 persen tenaga kerja TikTok. Dublin sendiri adalah markas utama TikTok di Eropa. Nasibnya belakangan tidak jauh berbeda dengan kantor-kantor regional Meta dan Amazon yang lebih dulu merampingkan tim demi memprioritaskan investasi kecerdasan buatan.

Di Jakarta, respons pemerintah terasa hati-hati. Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengaku belum mendapat update terbaru soal Tokopedia, sambil menunjuk Satgas Mitigasi PHK di bawah Kemenaker sebagai pihak yang lebih relevan. Yang lebih substansial justru konteks makro yang ia paparkan. PMI Manufaktur Indonesia amblas ke level 46,9 pada Juni 2026, masuk zona kontraksi dari sebelumnya stabil di angka 50. Tekanan datang dari dua arah sekaligus: bahan baku yang terdisrupsi konflik geopolitik, dan pasar ekspor yang melemah. "Jadi kena di dua sisi memang industri ini," kata Susiwijono. Ia menegaskan konteks itu tidak spesifik menyasar Tokopedia, tapi sinyalnya cukup bikin siapapun waspada.

Pertanyaannya, berapa lama proses ini berlangsung?

Yang belum jelas hingga kini: berapa persisnya karyawan yang terdampak gelombang terbaru, divisi mana yang tersisa, dan seperti apa bentuk Tokopedia setelah integrasi benar-benar tuntas. TikTok masih menutup rapat rincian itu. Satu yang mereka tegaskan: investasi di Indonesia akan terus berlanjut, dan Tokopedia akan dijadikan platform yang "lebih baik" bagi pengguna dan penjual lokal. Klaim yang masih perlu dibuktikan, sambil kita hitung berapa banyak orang yang masih tersisa untuk menjalankannya.