MINGGU, 4 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Pertamina Tahan Harga Pertamax, Meski Minyak Dunia...

Bisnis

Pertamina Tahan Harga Pertamax, Meski Minyak Dunia Sudah Melandai

Pakar ungkap alasan di balik keputusan Pertamina tidak menurunkan harga Pertamax meski harga minyak dunia berfluktuasi. Sementara itu, kenaikan dari Rp12.300 ke Rp16.250 per liter sejak Juni 2026 masih terasa di dompet konsumen.

Kenaikan Harga BBM 2026: Bagaimana Media Membingkai Peristiwa dan Membentuk Cara Kita Memaknainya

Pertamina resmi menaikkan harga Pertamax ke Rp16.250 per liter pada 10 Juni 2026, dari posisi sebelumnya di Rp12.300. Kenaikan itu kini sudah berlalu lebih dari dua pekan, tapi yang mulai ramai dipertanyakan justru sebaliknya: kenapa harganya tidak kunjung turun, padahal harga minyak dunia sudah bergerak ke arah lain?

Konflik Israel-Iran yang pecah akhir Februari 2026 memang sempat membakar harga minyak mentah, mendorong Pertamina menyesuaikan harga BBM non-subsidi secara bertahap sejak April hingga puncaknya di bulan Juni. Logika itu masuk akal. Tapi kalau tekanan dari sisi hulu sudah mereda, kenapa Pertamax belum juga ikut bergerak?

Pertamina, seperti badan usaha energi mana pun, tidak bekerja dengan skema harga harian ala SPBU di Eropa. Ada mekanisme evaluasi berkala, komponen biaya distribusi dan margin yang tidak fluktuatif mengikuti harga spot, serta pertimbangan stabilitas pasokan jangka menengah yang perlu dijaga. Harga BBM non-subsidi memang bisa disesuaikan. Tapi tidak semudah itu.

Ada satu faktor lagi yang sering luput dari percakapan publik: nilai tukar rupiah. Minyak mentah dihargai dalam dolar, konsumen membayar dalam rupiah. Kalau kurs melemah saat harga minyak turun, efek penurunannya bisa saling menetralisasi, setidaknya itu bisa jadi salah satu penjelasannya, meski Pertamina belum memberikan keterangan resmi yang gamblang soal ini.

Sementara kalkulasi bisnis berjalan di balik layar, di ujung pompa bensin ceritanya berbeda. Pengemudi ojek daring, pedagang kecil, pelaku UMKM, semuanya sudah lebih dulu merasakan selisih Rp3.950 per liter itu sejak Juni. Bagi mereka yang margin usahanya setipis kertas, kenaikan bahan bakar bukan angka statistik. Itu soal apakah akhir bulan masih ada sisa.

Rp16.250 bukan rekor tertinggi Pertamax sepanjang sejarah. Tapi konteksnya yang bikin berat: kenaikan ini datang saat inflasi belum sepenuhnya jinak, dan daya beli kelas menengah-bawah masih tertatih pulih.

Pertanyaannya kini menggantung. Apakah Pertamina akan memanfaatkan momen stabilisasi harga minyak global untuk merevisi harga ke bawah, atau justru menahan di level ini selama mungkin demi memperbaiki margin yang tergerus selama periode harga minyak tinggi? Kalau pilihan kedua yang diambil, agaknya konsumen masih harus bersabar, cukup lama.