KAMIS, 8 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Penjualan Ritel Mei-Juni 2026 Terus Minus, Daya Be...

Ekonomi

Penjualan Ritel Mei-Juni 2026 Terus Minus, Daya Beli Kian Seret

Indeks Penjualan Riil Mei 2026 tercatat 223,4 atau terkontraksi 3,9% secara tahunan, dan BI memproyeksikan kontraksi makin dalam ke 4,4% YoY pada Juni. Sinyal daya beli rumah tangga yang kian tertekan.

BI Lapor Kondisi Penjualan Ritel Mei-Juni, Ini Hasilnya - Market

Dua bulan berturut-turut, angkanya negatif. Bank Indonesia melaporkan Indeks Penjualan Riil (IPR) Mei 2026 berada di level 223,4, turun 3,5 poin dari posisi April yang sebesar 226,9, dan terkontraksi 3,9% secara tahunan. Lebih dalam ketimbang kontraksi 3,7% pada bulan sebelumnya.

Secara bulanan, laju penurunannya memang mereda. Setelah anjlok 11,6% month-to-month pada April, kontraksi Mei "hanya" menyentuh 1,5% mtm. Perbaikan itu sebagian besar ditopang momentum hari besar keagamaan, yakni Kenaikan Yesus Kristus, Iduladha, dan Waisak. "Perkembangan tersebut dipengaruhi permintaan masyarakat pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional," jelas Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso, Kamis (9/7/2026).

Tapi perbaikan bulanan itu tidak mengubah gambaran besar. Secara tahunan, tren penurunannya justru makin mengkhawatirkan: dari April minus 3,7%, lalu Mei minus 3,9%, dan BI memproyeksikan Juni akan semakin dalam ke minus 4,4% YoY dengan IPR turun lagi ke 221,6. Dalam dua bulan saja, indeks ini sudah menyusut 5,3 poin atau sekitar 2,3% dari posisi April. Kontraksinya bukan sekadar berlanjut, akselerasinya menguat. Bukan tanda yang bagus.

Di level kelompok barang, arah daya beli masyarakat terbaca cukup jelas. Kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi ambles 18,4% secara tahunan, Subkelompok Sandang minus 12%, dan Makanan, Minuman, dan Tembakau terkontraksi 4,1% YoY. Tiga kelompok yang masih hijau pun cuma tipis: Suku Cadang dan Aksesori tumbuh 11,2% YoY, Bahan Bakar Kendaraan Bermotor hanya 0,3%, dan Barang Budaya serta Rekreasi nyaris stagnan di 0,2%.

Yang bikin gambaran ini makin serius adalah data konsumen yang bergerak searah. Survei Konsumen BI mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turun dari 120,9 pada Mei menjadi 117,8 pada Juni 2026. Masih di atas 100, tapi tren turunnya tidak bisa diabaikan begitu saja.

Ekonom Makro PT Bank Tabungan Negara Tbk Myrdal Gunarto melihat ini sebagai momen transisi yang krusial. Tekanan yang selama ini lebih banyak ditanggung sisi produsen kini mulai merembes ke rumah tangga. "Transisi beban ini memaksa konsumen merekalibrasi pengeluaran harian mereka secara ketat dan memicu sikap defensif dalam merespons ekonomi," ujar Myrdal kepada Kontan, Rabu (9/7/2026).

Buktinya terlihat dari perubahan alokasi pendapatan. Rasio tabungan terhadap pendapatan menyusut 0,5 poin menjadi 17,0% pada Juni, sementara porsi konsumsi merangkak naik 0,7 poin ke 73,0%. Konsumen, agaknya, mulai menggerus cadangan untuk sekadar menutup biaya hidup harian. Kalau berlangsung terlalu lama, ini bukan fenomena yang sehat.

Tekanan itu bahkan sudah merambah ke belanja nonprimer. Indeks Pembelian Barang Tahan Lama melorot dari 108,3 pada Mei ke 105,9 pada Juni, dan Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja anjlok dari 105 menjadi 101,8 di periode yang sama. Konsumen bukan cuma pelit belanja. Mereka juga mulai was-was soal pekerjaan.

Untuk Juni, BI memproyeksikan kontraksi bulanan mereda ke 0,8% mtm, ditopang libur sekolah akhir bulan yang biasanya mendorong belanja kelompok suku cadang dan perlengkapan rumah tangga. Momentum liburan, sayangnya, bersifat sementara. Sedangkan tekanan strukturalnya, dari inflasi impor hingga pelemahan Rupiah, belum kemana-mana.

Pertanyaannya, sampai kapan konsumen bisa bertahan?

Myrdal memandang pemulihan konsumsi sangat bergantung pada de-eskalasi ketegangan geopolitik dan stabilitas kurs. Ia mendorong pemerintah untuk menjaga stimulus fiskal dan bantuan sosial bagi kelompok berpendapatan rendah agar penurunan konsumsi tidak makin tajam. Pertumbuhan ekonomi tahun ini diproyeksikannya di kisaran 5,17%, angka yang masih bisa dicapai. Tapi jalan ke sana, entah kebetulan atau tidak, terasa jauh lebih sempit dari sebelumnya.