Angka nasionalnya memang lesu, tapi ceritanya tidak sesederhana itu.
Bank Indonesia merilis Survei Penjualan Eceran (SPE) pada Kamis (9/7/2026), mencatat Indeks Penjualan Riil (IPR) Mei 2026 di level 223,4 atau terkontraksi 3,9 persen secara tahunan. Praktis tidak beranjak dari kontraksi 3,7 persen pada April 2026, pertanda bahwa pemulihan konsumsi rumah tangga belum juga menemukan traksinya.
Tapi begitu datanya dibedah per kota, gambarannya berubah dramatis.
Jakarta membukukan pertumbuhan IPR 12,8 persen secara tahunan di Mei 2026. Angka yang besar. Medan masih tumbuh 2,1 persen, sedangkan Bandung nyaris tidak bergerak, hanya 0,1 persen. Artinya, kontraksi nasional sebagian besar ditanggung kota-kota lain yang berada jauh di zona negatif, sementara ibu kota justru masih belanja cukup kencang.
Secara bulanan, ada sinyal yang agak lebih melegakan. Penjualan eceran Mei tergerus 1,5 persen dibanding April, tapi itu jauh lebih ringan ketimbang April yang ambles 11,6 persen dari bulan sebelumnya. BI menyebut perbaikan ini terbantu momentum Hari Besar Keagamaan Nasional: Kenaikan Yesus Kristus, Idul Adha, dan Waisak. Semarang, Makassar, dan Bandung bahkan berhasil membalik kontraksi bulanan yang sebelumnya sangat dalam, masing-masing mencatat pertumbuhan 0,1 persen, 3,8 persen, dan 1,0 persen setelah sebelumnya ambles masing-masing 23,1 persen, 16,6 persen, dan 17,6 persen.
Memasuki proyeksi Juni 2026, peta konsumsi kembali bergeser. Entah kebetulan atau tidak, arahnya tidak selalu konsisten dengan tren sebelumnya. Manado diprakirakan menjadi bintang secara tahunan dengan pertumbuhan 15,1 persen, disusul Semarang 10,7 persen dan Jakarta 8,9 persen. Secara bulanan, justru Surabaya yang diperkirakan memimpin dengan kenaikan 6,6 persen, padahal kota ini masih berada di zona kontraksi tahunan minus 1,7 persen. Manado sendiri, meski unggul tahunan, justru diprakirakan terkoreksi 2,9 persen secara bulanan. Dua ukuran, dua cerita berbeda.
Bandung agaknya menjadi kasus paling berat. Kontraksi tahunan diprakirakan mencapai 16,5 persen, dan secara bulanan kota ini diperkirakan kembali tergerus 18,7 persen. Dua tekanan sekaligus, tanpa bantalan yang jelas.
Dari sisi kelompok barang, suku cadang dan aksesori menjadi penopang utama dengan pertumbuhan 11,2 persen secara tahunan di Mei. Bahan bakar kendaraan bermotor dan barang budaya-rekreasi juga masih tumbuh, meski tipis. Peralatan informasi dan komunikasi terkontraksi 18,4 persen, sandang turun 12 persen. Yang paling susah diargumentasikan: kelompok makanan, minuman, dan tembakau, basis konsumsi harian, masih tergerus 4,1 persen secara tahunan. Sulit bilang daya beli menguat kalau segmen kebutuhan pokok masih negatif.
Untuk Juni, BI memproyeksikan IPR di angka 221,6, sedikit di bawah Mei. Secara bulanan diperkirakan turun 0,8 persen, lebih ringan dari Mei, dengan periode libur sekolah akhir Juni sebagai faktor penahan. Perlengkapan rumah tangga dan sandang diperkirakan tumbuh, sementara makanan-minuman dan suku cadang masih berpotensi terkontraksi.
Adapun Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) untuk Agustus 2026 tercatat 159,8, naik dari Juli yang sebesar 138,3. Pelaku usaha ritel rupanya masih menaruh harapan pada momentum HUT Kemerdekaan RI. IEP November pun naik ke 153,8, didorong antisipasi musim Natal.
Tekanan harga ikut merayap. Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Agustus diprakirakan 178,0, naik dari 175,8 pada Juli, akibat kenaikan harga bahan baku. Kalau inflasi yang dirasakan konsumen ikut bergerak naik, pertanyaannya sederhana: optimisme pelaku usaha itu akan bertemu dengan dompet konsumen yang mana?