Angka 2,7% itu terdengar kecil. Dan memang kecil. Itulah tingkat penetrasi asuransi Indonesia per 2025, masih tertinggal dari Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, bahkan Vietnam.
Data tersebut disampaikan Kepala Departemen Pengawasan Asuransi dan Jasa Penunjang OJK Sumarjono di hadapan peserta Jogja Financial Festival 2026, Sabtu (23/5/2026), dalam sesi bertajuk "Muda Kaya Raya, Tua Sejahtera" di Jogja Expo Centre, Bantul. Forum yang dihadiri pelajar hingga masyarakat umum itu justru memperlihatkan betapa jauh jarak antara paham dan lakukan.
Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 mencatat indeks literasi asuransi sudah menyentuh 45,45%, naik dari sekitar 36% pada 2024. Tapi tingkat inklusinya, berapa yang benar-benar punya polis, baru 28,50%. Orang tahu, tapi tidak beli. Kesenjangan yang menganga.
Dalam sesi diskusi di Jogja, para pelajar cukup jujur soal alasannya. Istilah-istilah asuransi dianggap njlimet, tidak ramah pemula. Sebagian lagi berpendapat asuransi tidak memberikan imbal hasil, sehingga ketika ada dana lebih, pilihan jatuh ke saham atau instrumen lain. Bukan temuan mengejutkan, tapi tetap jadi catatan penting.
Sumarjono mengakui pengalaman gagal bayar klaim di masa lalu masih membekas di benak masyarakat, dan itu bukan sekadar prasangka. Kepercayaan yang retak butuh waktu lama untuk dipulihkan, apalagi tanpa edukasi yang konsisten. "Kalau mau sejahtera nanti di waktu tua, kita harus mempersiapkan, merencanakannya harus dari sekarang," tegasnya.
Bergeser ke ruang kuliah, OJK bersama Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menggelar kuliah umum perasuransian di Universitas Jember. Kepala Eksekutif Pengawas PPDP OJK Ogi Prastomiyono menyebut risiko sebagai bagian yang tidak bisa dilepas dari kehidupan. "Yang membedakan adalah kesiapan dalam mengelolanya. Asuransi hadir sebagai instrumen perlindungan agar masyarakat tidak menghadapi risiko sendirian ketika hal yang tidak diharapkan terjadi," ungkapnya.
Plt Ketua Dewan Pengurus AAJI Albertus Wiroyo memilih pendekatan yang lebih membumi. Kolaborasi dengan kampus, katanya, bukan sekadar agenda seremonial. "AAJI memandang kolaborasi dengan perguruan tinggi sebagai investasi jangka panjang. Masa depan industri asuransi jiwa sangat ditentukan oleh generasi muda, baik sebagai pengguna layanan maupun sebagai talenta profesional yang akan menggerakan industri ke depan," ujarnya.
Handojo G Kusuma, juga dari jajaran pengurus AAJI, memilih framing yang agaknya lebih mudah dicerna ketimbang brosur produk penuh klausula. Ia menyebutnya gotong royong modern, mengumpulkan iuran bersama untuk menolong sesama yang tertimpa musibah. Ia juga meluruskan salah kaprah yang sering muncul. "Asuransi jiwa sering disalah artikan sebagai produk yang berbicara tentang kematian. Padahal, pada dasarnya asuransi jiwa adalah tentang kehidupan, tentang memastikan keluarga tetap bisa melanjutkan hidup ketika risiko terjadi," katanya.
Soal skala industri, angkanya tidak main-main. Sepanjang Januari hingga September 2025, total aset industri asuransi jiwa menembus Rp646,58 triliun, dengan Rp571,40 triliun di antaranya dialokasikan ke instrumen investasi termasuk surat berharga negara. Dana itu ikut menopang pembiayaan pembangunan nasional, sebuah kontribusi yang jarang disadari publik.
AAJI bahkan membawa program beasiswa ke Unej lewat skema Beasiswa Harry Diah. Sejak 2024, program ini sudah menjangkau 11 universitas dan menyalurkan bantuan kepada 46 penerima dari jenjang S1 hingga S3. Cara yang tidak biasa untuk membangun ekosistem, tapi bisa jadi justru yang paling efektif.
Direktur Keuangan Indonesia Financial Group (IFG) Heru Handayanto menepis anggapan bahwa asuransi identik dengan premi mahal, dengan mencontohkan produk Lifesaver sebagai alternatif terjangkau. Argumen yang perlu lebih sering terdengar, terutama di telinga anak muda yang masih menimbang antara proteksi dan cuan.