Tom Blomfield sudah punya segalanya. Co-founder GoCardless dan Monzo, dua fintech unicorn asal Inggris, lalu empat setengah tahun jadi Group Partner di Y Combinator. Tapi pekan lalu ia mengumumkan sesuatu yang bikin banyak orang mengernyitkan dahi: ia mengambil cuti untuk bergabung dengan tim komputasi Anthropic, bukan sebagai eksekutif, bukan sebagai advisor, melainkan sebagai "member of technical staff."
Gelar itu terdengar datar. Sengaja begitu. Anthropic dan OpenAI memang menggunakan label non-hierarkis ini untuk hampir semua orang di tim teknis mereka, tanpa memandang seberapa panjang CV yang dibawa. Dan itulah yang membuat fenomena ini menarik dicermati, karena Blomfield bukan satu-satunya.
Andrej Karpathy, salah satu founding member OpenAI yang kemudian memimpin divisi AI di Tesla dan sempat mendirikan Eureka Labs, masuk ke tim pre-training Anthropic pada Mei lalu. Alasannya nyaris identik dengan Blomfield: "beberapa tahun ke depan di frontier LLMs akan menjadi periode yang sangat formatif." Mike Krieger, co-founder Instagram, sudah lebih dulu bergabung sebagai Chief Product Officer Anthropic sejak 2024. Peter Bailis bahkan meninggalkan kursi CTO Workday, perusahaan dengan pendapatan 8 miliar dolar AS, hanya beberapa bulan setelah menjabat, untuk mengambil posisi teknis di Anthropic. Kurang dari setahun ia bertahan sebelum turun ke lantai produksi.
Pola ini susah diabaikan. Orang-orang yang sudah membangun perusahaan bernilai miliaran dolar, yang sudah punya kebebasan finansial penuh, kini antre masuk ke laboratorium AI dengan jabatan yang secara hierarki jauh di bawah apa yang pernah mereka pegang. Bukan karena terpaksa. Mereka agaknya melihat sesuatu yang tidak ingin mereka lewatkan.
Tidak semua memilih bergabung dengan lab orang lain. Chamath Palihapitiya, yang lebih dikenal sebagai "SPAC King" dan wajah tetap podcast "All In", baru saja kembali ke peran operasional penuh pertamanya dalam lebih dari satu dekade. Ia menjadi CEO 8090 Labs, startup AI coding untuk perusahaan. Pengumuman itu langsung disertai pendanaan Seri A sebesar 135 juta dolar AS, dipimpin Salesforce Ventures. "Saya yakin bahwa apa yang kami bangun sekarang bahkan lebih penting, jadi tidak ada keputusan lain selain untuk all in," tulisnya di X. Eric Wu, yang mengelola Opendoor selama satu dekade sebelum mundur pada 2023, meluncurkan NavigateAI, AI copilot untuk pekerja konstruksi, dengan seed funding 25 juta dolar AS. Kepada para investor, Wu blak-blakan: jika ia tidak melakukan sesuatu yang terkait AI sekarang, ia tahu betul akan menyesalinya sepuluh tahun lagi.
Apa yang sesungguhnya sedang terjadi? Bisa jadi ini bukan sekadar FOMO kolektif dari kalangan pendiri teknologi. Feedberry dalam analisisnya menyebut ini sebagai sinyal bahwa fase eksplorasi AI telah berakhir dan fase industrialisasi dimulai. Ketika orang-orang yang telah membangun yang terbesar memilih kembali ke garis depan teknis, mereka rupanya melihat nilai yang lebih besar di depan dari semua yang sudah mereka ciptakan. Pertanyaannya, berapa lama antrean ini masih akan terus bertambah?
Dampaknya tidak akan berhenti di Silicon Valley. Perebutan talenta AI kelas atas semakin keras, dan tawaran bergaji dolar dari raksasa global semakin sulit ditandingi oleh perusahaan di negara berkembang. Bagi ekosistem teknologi Indonesia, ini bukan kabar ringan. Insinyur AI terbaik lokal kini punya lebih banyak alasan untuk melirik kesempatan di luar negeri, dan selisih gajinya sudah tidak lagi bisa dijembatani sekadar dengan equity atau kultur perusahaan.
Bagi investor, fenomena ini memberi satu pelajaran sederhana: ketika orang-orang yang sudah punya segalanya memilih mulai dari bawah demi satu sektor, sektor itu layak dipantau jauh lebih serius dari sebelumnya.