RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Pejabat The Fed Serempak Ingatkan Ancaman Inflasi,...

Ekonomi

Pejabat The Fed Serempak Ingatkan Ancaman Inflasi, Kenaikan Suku Bunga Mengintai

Setidaknya tiga pejabat senior The Fed kompak memperingatkan bahwa inflasi AS yang terus merangkak naik bisa memaksa bank sentral mengerek suku bunga kembali, sebuah sinyal yang pasar kontrak berjangka pun sudah mulai hitung.

The Fed siap naikkan suku bunga jika inflasi terus menguat

Tiga pejabat senior Federal Reserve bersuara nyaris bersamaan pekan ini, dan pesannya seragam: inflasi belum jinak, dan kenaikan suku bunga bukan lagi skenario pinggiran.

Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland, Beth Hammack, paling blak-blakan. Dalam pidatonya di City Club of Cleveland, ia terang-terangan bilang kekhawatirannya kini lebih besar ke arah inflasi yang mengakar ketimbang risiko pelemahan pasar tenaga kerja. Kebijakan moneter saat ini, agaknya, belum cukup ketat untuk memaksa inflasi turun ke target 2%. "Gambaran inflasi tidak menggembirakan. Inflasi terlalu tinggi dan terus meningkat," katanya.

Hammack juga memperingatkan soal konsekuensi menunggu terlalu lama. Kalau The Fed baru bertindak setelah ada bukti pasti bahwa inflasi telah benar-benar mengakar, penyesuaian kebijakan yang dibutuhkan akan jauh lebih mahal dan menyakitkan. Apabila ekspektasi inflasi masyarakat terus melonjak, The Fed tidak punya banyak pilihan selain mengambil langkah tegas, ujarnya.

Senada, Gubernur Fed Bank of Dallas Lorie Logan menilai kondisi ekonomi AS justru tidak menunjukkan tanda-tanda pelambatan: pasar tenaga kerja seimbang, investasi AI sedang mekar, dan kondisi keuangan masih akomodatif. Kebijakan moneter, simpulnya, tidak sedang mengerem laju ekonomi. "Saya semakin khawatir bahwa suku bunga yang lebih tinggi mungkin diperlukan pada akhir tahun ini untuk sepenuhnya memulihkan stabilitas harga," ungkap Logan dalam sebuah acara di El Paso, Texas.

Biang keroknya? Energi. Perang yang didukung AS terhadap Iran menghantam arus pasokan energi global, memicu lonjakan harga yang merembet ke mana-mana: tarif listrik naik, premi asuransi kesehatan merayap, biaya perangkat lunak ikut terkerek. Hammack mengingatkan bahwa gangguan ini tidak akan selesai begitu saja meski konflik berakhir besok sekalipun. "Apa yang saya dengar dari pelaku usaha, khususnya di sektor energi, adalah bahwa bahkan jika Selat Hormuz dibuka kembali besok, diperlukan waktu berbulan-bulan untuk memulihkan arus pasokan minyak seperti sebelumnya," katanya.

Pasar sudah menangkap sinyal itu. Kontrak berjangka suku bunga kini merefleksikan kemungkinan langkah berikutnya The Fed adalah kenaikan, bukan pemangkasan. Bukan kejutan juga kalau posisi Hammack sudah konsisten dari jauh hari: pada rapat FOMC April lalu, ia menjadi satu-satunya anggota pemegang hak suara yang menentang pernyataan kebijakan yang mengisyaratkan pemangkasan suku bunga sebagai langkah berikutnya.

Satu suara beda nada datang dari Presiden Fed New York John Williams, yang bobotnya selalu diperhitungkan karena statusnya sebagai anggota tetap FOMC. Williams mengakui inflasi telah naik dipicu harga energi, tapi ia melihat tekanan harga ini berpotensi mencapai puncaknya dalam beberapa bulan mendatang. Tidak ada arah yang jelas untuk pergerakan suku bunga, katanya. Wait and see, berbeda jauh dari nada hawkish Hammack dan Logan.

Konsensus pasar saat ini masih menempatkan The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75% dalam rapat 16-17 Juni. Tapi dengan tiga pejabat vokal serempak menaikkan waspada soal inflasi dalam satu pekan, klaim bahwa pemangkasan masih ada di depan mata kini terasa kian sulit dipertahankan. Portofolio yang masih bersandar pada skenario rate cut tahun ini, kalau data ini bisa dipercaya, mungkin sudah waktunya dihitung ulang.