SENIN, 12 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  PDB AS Direvisi 1,6%, Inflasi PCE Sentuh 3,8%: Fed...

Ekonomi

PDB AS Direvisi 1,6%, Inflasi PCE Sentuh 3,8%: Federal Reserve Makin Terjepit

Serangkaian data ekonomi AS yang dirilis Kamis menempatkan Federal Reserve di persimpangan paling sulit dalam beberapa tahun terakhir: inflasi PCE tahunan melonjak ke 3,8%, sementara PDB kuartal pertama 2026 hanya tumbuh 1,6% setelah direvisi turun.

Gedung Departemen Perdagangan Amerika Serikat di Washington, AS. Foto: REUTERS/Joshua Roberts

Banjir data ekonomi AS yang dirilis Kamis (29/5) memberi gambaran yang tidak nyaman: pertumbuhan melambat, inflasi masih membara, dan Federal Reserve kian terjepit di antara dua mandat yang saling bertarik.

Produk Domestik Bruto riil kuartal pertama 2026 direvisi turun menjadi 1,6% secara tahunan, turun 0,4 poin persentase dari estimasi sebelumnya sebesar 2%. Angka ini melambat dari pertumbuhan 2,1% sepanjang 2025, dipicu penurunan investasi persediaan dan pelemahan konsumsi. Belanja konsumen, yang menyumbang lebih dari dua pertiga ekonomi AS, hanya naik 1,4%, di bawah proyeksi 1,6%. Satu-satunya penopang yang lumayan: investasi perusahaan pada peralatan masih tumbuh 17,2%.

Tekanan harga justru bergerak ke arah berlawanan. Indeks PCE headline April naik 0,4% secara bulanan dan 3,8% secara tahunan, level tertinggi sejak Mei 2023. Inflasi inti PCE, yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi, tercatat 3,3% tahunan, level tertinggi sejak November 2023 dan sesuai konsensus ekonom Dow Jones. Hampir dua kali lipat target The Fed. Bukan main.

Komponen pembentuk inflasi bulan ini cukup beragam. Harga barang naik 0,7%, ditarik lonjakan harga bensin sebesar 5,5%. Harga jasa naik 0,3%, dengan sektor perumahan dan utilitas menyumbang kenaikan 0,6%, mencatat kenaikan bulanan terbesar sejak Januari 2025. Biaya makan dan akomodasi juga merangkak naik 0,5%. Satu sinyal yang agaknya sedikit melegakan: inflasi jasa di luar makanan, energi, dan perumahan hanya naik 0,2%, mengindikasikan tekanan inti mulai mereda, meski belum cukup untuk menggeser ekspektasi pasar.

Kondisi konsumen makin mengkhawatirkan. Belanja April memang naik 0,5% sesuai proyeksi, tetapi pendapatan masyarakat stagnan, di bawah perkiraan kenaikan 0,4%. Rasio tabungan pribadi amblas ke 2,6%, level terendah sejak 2008, bukan sejak Juni 2022 seperti disebut sebagian laporan. Konsumsi bulan ini sebagian besar dibiayai dari kantong cadangan, bukan dari pertumbuhan penghasilan riil. Mark Zandi, ekonom senior Moody's Analytics, membaca ini sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar perlambatan biasa. "Konsumen mulai kehabisan sumber daya finansial untuk mempertahankan pengeluaran mereka," tulisnya di akun X, seraya menyebut data hari itu sebagai sinyal yang sangat jelas bahwa ekonomi Amerika sedang dalam kondisi struggle.

Faktor geopolitik mempertebal awan mendung. Ketegangan akibat perang Iran dinilai menjadi salah satu penyebab utama inflasi energi yang sulit jinak. Zandi bahkan memperingatkan: jika Selat Hormuz tidak segera dibuka, probabilitas resesi bisa melampaui probabilitas pemulihan. Para ekonom memperkirakan konflik yang berlanjut akan menekan pertumbuhan PDB ke kisaran 1,2-1,5% pada akhir 2026.

Sinyal dari pasar tenaga kerja bersifat campuran. Klaim pengangguran mingguan naik tipis ke 215.000, sedikit di atas estimasi 213.000. Pesanan barang tahan lama, sebaliknya, melonjak 7,9% pada April, jauh melampaui proyeksi 3,5%, didorong permintaan pesawat dan komputer. Titik terang yang terasa kontras di tengah deretan data yang kurang ramah.

Fed kini benar-benar berada di persimpangan. Ketua baru Federal Reserve Kevin Warsh sebelumnya mengisyaratkan ruang untuk pemangkasan suku bunga, tapi pandangan itu kemungkinan besar akan menemui resistensi di dalam FOMC. Gubernur Fed Lisa Cook menegaskan bank sentral masih dalam mode "tunggu dan lihat", dengan risiko inflasi sebagai perhatian utama. Presiden Fed St. Louis Alberto Musalem bahkan menyebut kenaikan suku bunga sebagai skenario yang tetap terbuka jika inflasi tidak segera melandai. Pertanyaannya, berapa lama pasar bisa bertahan dengan ketidakpastian semacam ini? Pasar saat ini memperkirakan Fed akan menahan bunga setidaknya hingga akhir 2026, dengan sebagian pelaku mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan di awal tahun depan. Bukan lagi soal kapan bunga dipangkas, tapi apakah bunga justru akan naik lagi.