SELASA, 20 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Pasar Pasang Ekspektasi BI Rate Naik ke 6% Rabu In...

Ekonomi

Pasar Pasang Ekspektasi BI Rate Naik ke 6% Rabu Ini, tapi Tak Semua Satu Suara

Konsensus 34 ekonom Bloomberg mengarah ke kenaikan BI Rate 25 bps menjadi 6%, meski sebagian institusi besar masih ragu. Keputusan RDG hari Rabu ini jadi salah satu penentu arah rupiah dan pasar keuangan pekan ini.

Kalender Ekonomi: BI Rate, ECB, dan Data Inflasi Warnai Pekan Ini - Market

Rabu ini, 22 Juli 2026, Bank Indonesia mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur Juli. Pasar sudah punya pegangan yang cukup tegas: BI Rate naik, dari 5,75% ke 6%.

Survei Bloomberg terhadap 34 ekonom dan analis menghasilkan median proyeksi di angka 6%, dengan rentang yang terbilang sempit, yakni 5,75% hingga 6%. Sebanyak 29 ekonom masuk dalam perhitungan utama. Ketatnya sebaran ini mencerminkan keyakinan yang lumayan solid di kalangan pelaku pasar. Bloomberg Economics secara eksplisit memperkirakan kenaikan 25 basis poin sebagai langkah menjaga stabilitas rupiah, seiring tekanan yang kembali memanas terhadap nilai tukar domestik.

Kalau data ini bisa dipercaya, kenaikan sudah hampir pasti. Tapi sejumlah nama besar justru tidak ikut arus. CIMB, Bank of America, Barclays, Citigroup, PT Bank Permata Tbk (BNLI), hingga PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) masih memperkirakan BI akan menahan suku bunga di posisi saat ini. Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede termasuk yang skeptis. Menurutnya, kenaikan BI Rate ke 5,75% pada Juni lalu sudah jelas diarahkan untuk memperkuat stabilitas rupiah dan menjaga inflasi 2026-2027 tetap dalam sasaran, sementara kebijakan makroprudensial sengaja dibiarkan longgar agar kredit ke sektor riil tidak ikut tersendat. "Tambahan kenaikan BI Rate ke 6% saat ini belum tentu memberi manfaat yang sepadan dibanding biayanya. Inflasi memang naik, tetapi masih berada dalam kisaran sasaran BI," kata Josua kepada Bloomberg Technoz.

Argumen itu masuk akal. Tapi tekanan eksternal yang sedang menumpuk membuat BI agaknya sulit bersantai terlalu lama. Konflik AS-Iran yang terus bereskalasi menghajar harga minyak global, sementara arus modal ke pasar negara berkembang tetap sensitif terhadap arah The Fed, yang prospeknya kini sedikit melunak seiring moderasi inflasi AS. Pertanyaannya, berapa lama BI bisa menahan tanpa kehilangan kredibilitas?

Perkan ini juga diwarnai rapat kebijakan Bank Sentral Eropa. ECB diperkirakan menahan suku bunga setelah inflasi kawasan euro mulai melandai di Juni, meski Bloomberg Economics masih memproyeksikan satu kenaikan lagi sebesar 25 bps pada September sebagai penutup siklus pengetatan. Di Inggris, investor punya agenda ganda: mencermati data inflasi dan pasar tenaga kerja, sekaligus mengawasi arah kebijakan fiskal di bawah Perdana Menteri baru Andy Burnham.

Dari Asia, China kemungkinan besar mempertahankan Loan Prime Rate tenor satu tahun di 3% dan tenor lima tahun di 3,5%. Jepang merilis data inflasi Juni, yang diperkirakan menunjukkan kenaikan inflasi inti dari 1,4% menjadi 1,5%, sinyal bahwa Bank of Japan akan terus berjalan pelan menuju normalisasi. Korea Selatan bersiap mencatat perlambatan pertumbuhan kuartal II ke 0,4% secara kuartalan. Bukan angka yang menggembirakan, entah kebetulan atau tidak, momentumnya pas ketika ketidakpastian global sedang panas-panasnya.

Bagi investor lokal, kalkulasinya cukup telak: kalau BI benar-benar naik ke 6%, cost of fund perbankan terkerek, dan saham-saham sektor keuangan yang selama ini jadi tulang punggung IHSG akan jadi yang paling pertama merasakan imbasnya. Rabu sore nanti akan memberi jawabannya.