Pertengahan 2026, pasar smartphone kelas menengah Indonesia sedang dalam kondisi yang bisa disebut "terlalu kompetitif" untuk kenyamanan siapapun, kecuali konsumen. Dalam rentang harga dua juta hingga lima juta rupiah, setidaknya lima nama saling sikut memperebutkan dompet pengguna: Poco X7 Pro, POCO X8 Pro, Infinix GT 30 Pro, Poco M7, dan iQOO Z10 Lite. Masing-masing datang dengan klaim tersendiri, dan tidak semuanya bisa dibuktikan.
Mulai dari duel paling sengit di kelas atas segmen ini: Poco X7 Pro versus Tecno Pova 7 Ultra. Keduanya menawarkan baterai 6.000 mAh, desain agresif, dan layar AMOLED dengan refresh rate minimal 120Hz. Di atas kertas, keduanya tampak sepadan. Kenyataannya tidak. Poco X7 Pro hadir dengan Dimensity 8400 Ultra berbasis arsitektur Cortex-A725, sementara Tecno masih bertahan dengan Dimensity 8350 Ultimate yang arsitekturnya satu generasi lebih tua di Cortex-A715. Selisih ini terasa di benchmark, dan agaknya lebih terasa lagi di beban kerja nyata.
Yang membuat Poco X7 Pro makin sulit ditandingi adalah OIS pada kamera utama f/1.5-nya. Tecno memang mengusung angka 108 MP yang terdengar mengesankan, tapi tanpa stabilisasi optis, foto di kondisi minim cahaya atau saat tangan sedikit bergetar bisa mengecewakan. Ditambah pengisian 90W, Wi-Fi 6, dan GPS dual-band, Poco X7 Pro tampil sebagai paket yang lebih matang. Tecno mencoba mengimbangi lewat sistem pendingin yang lebih lebar dan potensi fitur bypass charging. Kata kunci: potensi. Per tulisan ini dibuat, fitur itu masih dalam tahap rumor, belum terkonfirmasi resmi.
Naik ke segmen yang lebih premium, POCO X8 Pro menghadapi Infinix GT 30 Pro. Harganya memang lebih mahal sekitar Rp1,4 juta. Tapi apa yang didapat sepadan: skor Antutu 1,97 juta berbanding 1,58 juta milik Infinix, RAM LPDDR5X, storage UFS 4.1, sertifikasi IP68/IP69, frame metal, dan jaminan update software lima tahun dengan Android 16. Chipset yang digunakan bukan Dimensity 8400 seperti adiknya, melainkan Dimensity 8500 Elite. Bukan main.
Infinix GT 30 Pro bukannya tanpa nilai. Wireless charging dan bypass charging adalah fitur yang bahkan tidak semua flagship sertakan. Tapi build quality plastik, absennya OIS pada kamera, dan komitmen update hanya dua tahun adalah kompromi yang berat di harga segitu. Untuk investasi jangka panjang, pilihan agaknya sudah jelas.
Turun ke kelas entri. Poco M7 dan iQOO Z10 Lite bersaing di kisaran dua jutaan dengan senjata yang berbeda. Keduanya sama-sama mengandalkan Snapdragon 685, jadi performa harian setara. Perbedaannya ada di prioritas. Poco M7 membawa layar IPS 6,9 inci dengan refresh rate 144Hz dan baterai jumbo 7.000 mAh, kombinasi maut untuk sesi gaming panjang. iQOO Z10 Lite memilih jalur lain: layar AMOLED 6,67 inci Full HD+ dengan baterai 6.000 mAh. Unggul di kualitas visual, sedikit tertinggal di daya tahan.
Kesimpulannya sederhana. Gamer yang lebih takut baterai habis daripada layar kurang vivid akan menemukan jawabannya di Poco M7. Buat yang lebih banyak streaming dan scrolling, iQOO Z10 Lite lebih memuaskan mata. Di kelas yang lebih tinggi, POCO X8 Pro paling susah dibantah saat ini, dan Poco X7 Pro mendominasi duel 6.000 mAh melawan Tecno Pova 7 Ultra. Poco, entah kebetulan atau memang by design, sedang dalam performa terbaiknya di hampir semua segmen. Pertanyaannya tinggal satu: sampai kapan kompetitor membiarkan ini berlanjut?