Dua tahun lalu, membeli smartphone Rp2 jutaan berarti menerima layar HD+ dan kamera 48MP sebagai standar. Di pertengahan 2026, standar itu sudah bergeser jauh. AMOLED 144Hz, memori 256GB, baterai 6.000 mAh, bahkan 5G kini bisa didapat tanpa harus merogoh kocek lebih dalam.
Tapi jangan buru-buru tergoda angka spesifikasi di atas kertas.
Kelangkaan komponen global memaksa vendor melakukan penyesuaian senyap di beberapa sektor. Ada yang memangkas resolusi layar dari Full HD+ ke HD+, ada yang menurunkan kecepatan penyimpanan dari UFS ke eMMC, ada pula yang mempertahankan chipset lama demi menjaga harga. Segmen ini kini lebih kompleks dari sebelumnya: spesifikasi utama naik, tapi kompromi tersembunyi tidak selalu terlihat di brosur.
Lantas, mana yang benar-benar layak dibeli?
Dari sisi baterai, Poco M7 dan Moto G06 Power jelas juara. Keduanya menggendong kapasitas 7.000 mAh, angka yang belum banyak tersaingi di kelas harga ini. Poco M7 dibekali layar IPS 6,9 inci dengan refresh rate 144Hz dan chipset Snapdragon 685, dibanderol Rp2,7 juta. Moto G06 Power mengambil jalur serupa dengan Helio G81 di dapur pacunya, harga lebih bersahabat, tapi chipset-nya sudah cukup ketinggalan untuk skenario gaming kompetitif. Layar HD+ di keduanya juga jadi catatan merah tersendiri di saat kompetitor sudah berani pasang AMOLED.
Bicara soal panel, itel S26 Ultra layak disebut kejutan terbesar segmen ini. Harganya Rp2,5 juta. Tapi sudah mengusung layar AMOLED lengkung 6,78 inci dengan resolusi 1,5K, refresh rate 144Hz, dan perlindungan Gorilla Glass 7i. RAM 8GB, penyimpanan 256GB, baterai 6.000 mAh, kamera selfie 32MP. Di atas kertas, paket ini sulit ditandingi. Satu-satunya tanda tanya besar: chipset Unisoc T7300 yang optimasi gaming-nya belum sematang Snapdragon atau MediaTek, ditambah rekam jejak pembaruan software yang kurang konsisten.
Redmi Note 15 4G bermain di ceruk berbeda. Kamera utama 108MP-nya jadi nilai jual paling mencolok di kelas ini, dipasangkan layar AMOLED 6,77 inci 120Hz dan baterai 6.000 mAh dengan fast charging 33 watt. Chipset MediaTek Helio G100 atau Helio G1 Ultra cukup andal untuk pemakaian harian. Harga resminya Rp2,8 juta. Kekurangannya telak: penyimpanan internal hanya 128GB di saat kompetitor sudah kasih 256GB, dan pengisian 33 watt terasa lambat untuk kapasitas baterai sebesar itu.
iQOO Z10 Lite datang dengan harga Rp2,9 juta, tertinggi di segmen ini. Layar AMOLED 6,67 inci Full HD+ terasa premium, baterai 6.000 mAh cukup, Snapdragon 685 hadir. Tapi refresh rate-nya cuma 90Hz. Di harga yang nyaris menyentuh tiga juta, angka itu susah dibelain, apalagi kalau dibandingkan itel S26 Ultra yang lebih murah tapi refresh rate-nya lebih tinggi.
Infinix punya dua kandidat dengan pendekatan beda. Hot 60 Pro mengandalkan kombinasi AMOLED 144Hz dan Helio G200 untuk pengguna yang sering multitasking atau gaming kasual. Hot 50 Pro+ menawarkan sesuatu yang langka di kelas ini: bodi ultra-tipis 6,8mm dengan AMOLED lengkung, speaker stereo kalibrasi JBL, sensor sidik jari in-display, NFC, dan sertifikasi IP54 sekaligus. Harganya di kelas Rp2 jutaan. Komprominya nyata: kapasitas baterai dipangkas demi estetika, dan manajemen suhu saat gaming panjang patut dipertanyakan.
Bagi yang loyal ke ekosistem Samsung, Galaxy A17 4G hadir dengan Super AMOLED 6,7 inci berlapis Gorilla Glass Victus. Bukan pilihan paling agresif dari sisi spesifikasi murni. Tapi garansi dukungan software dan aftersales Samsung tetap relevan, terutama bagi mahasiswa yang butuh perangkat jangka panjang.
108MP. AMOLED 144Hz. 7.000 mAh. Angka-angka itu memang menggoda.
Nubia Neo 3 5G bermain di angle yang berbeda total: desain gaming futuristik dengan panel RGB di punggung, layar AMOLED 120Hz 6,8 inci, dan konektivitas 5G lewat chipset Unisoc T8300. Baterai 6.000 mAh dengan fast charging 33W melengkapi paket yang terasa unik di kelas harganya.
Satu pelajaran yang agaknya sering dilupakan pembeli: jangan beli HP berdasarkan satu angka spesifikasi. Cek jenis chipset dan arsitektur core-nya, bukan cuma besaran RAM. Perhatikan tipe penyimpanan, UFS 2.2 ke atas jauh lebih responsif dibanding eMMC. Dan kalau kamu gamer, sistem pendingin internal itu bukan fitur sekunder karena chipset sekencang apa pun akan throttle kalau panas tidak terkelola.
Pasar Rp2 jutaan di Juli 2026 sudah jauh lebih matang. Justru karena pilihannya makin banyak, risiko salah beli juga makin besar bagi yang tidak cermat membaca antara baris spesifikasi.