KAMIS, 8 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Pasar Food Service RI Terbesar di ASEAN, Tembus US...

Ekonomi

Pasar Food Service RI Terbesar di ASEAN, Tembus USD 29 Miliar

Industri Hotel, Restaurant, and Institutional (HRI) Indonesia mencatat nilai USD 29 miliar pada 2024, menjadikannya pasar food service terbesar di Asia Tenggara sekaligus melampaui level pra-pandemi.

Pasar HRI Indonesia terbesar di ASEAN, tembus 29 miliar dolar AS

Angka USD 29 miliar bukan sekadar capaian statistik. Itu sinyal bahwa industri food service Indonesia sudah keluar dari bayang-bayang pandemi dan masuk ke babak baru yang jauh lebih ambisius.

Laporan Hotel, Restaurant and Institutional (HRI) Annual 2025 mengonfirmasi posisi Indonesia sebagai pasar food service terbesar di Asia Tenggara. Nilai pasar HRI yang menembus USD 29 miliar pada 2024 sekaligus melampaui capaian sebelum pandemi, satu pembuktian bahwa daya beli masyarakat dan pergeseran gaya hidup konsumen domestik benar-benar menjadi motor sektor ini.

Pertumbuhan itu ditopang beberapa faktor yang saling memperkuat: ekspansi jaringan hotel dan restoran internasional ke kota-kota tier dua dan tiga, meledaknya popularitas specialty coffee dan premium bakery di kalangan kelas menengah urban, serta layanan pesan-antar berbasis digital yang mengubah cara konsumen mengakses makanan berkualitas. Bak gayung bersambut, perluasan akses digital tadi ternyata ikut mendorong permintaan terhadap produk olahan premium yang praktis tapi tidak murahan soal gizi dan keamanan pangan.

Tren serupa terasa hingga di luar Indonesia. Di Hanoi, perusahaan HAVICO F&B meluncurkan dua produk anyar pada 3 Juli 2026, Golden Young Beef Hot Pot dan Premium Oxtail Hot Pot, sekaligus mengumumkan ekspansi distribusi nasional. Langkah itu mencerminkan arah yang sama: konsumen Asia Tenggara kini menuntut lebih dari sekadar kepraktisan. Mereka mau tahu asal bahan, nilai gizi, dan standar produksinya. Entah kebetulan atau tidak, momentum ini datang tepat saat pasar Indonesia sedang pada titik tertingginya.

Di dalam negeri, tekanan transformasi datang dari segala penjuru. Kewajiban sertifikasi halal yang semakin meluas, persaingan regional yang kian sengit, ekspektasi konsumen terhadap produk premium yang terus naik, semuanya memaksa pelaku usaha untuk naik kelas, bukan cuma tumbuh dalam volume.

Pameran Food & Hospitality Indonesia (FHI) 2026 hadir sebagai forum konsolidasi ekosistem industri. Dijadwalkan berlangsung 21-24 Juli 2026 di Jakarta International Expo (JIEXPO), Kemayoran, event ini mempertemukan produsen, pemasok, distributor, inovator teknologi, hingga pengambil kebijakan dari berbagai negara. Portfolio Director FHI 2026 Meysia Stephanie menegaskan bahwa pertumbuhan industri tidak semata ditentukan oleh besarnya pasar. "FHI hadir sebagai platform yang mempertemukan seluruh ekosistem industri dalam satu forum bisnis, sehingga pelaku usaha dapat membangun kemitraan strategis, menemukan solusi baru, sekaligus meningkatkan daya saing industri di tingkat global," kata Meysia.

Agenda keberlanjutan pun makin sulit diabaikan. FHI 2026 mengurasi produk organik, kemasan ramah lingkungan, efisiensi energi, sampai pengurangan limbah dalam ekosistem pamerannya. Marketing Communication Manager PT Pamerindo Indonesia Leonarita Hutama menegaskan bahwa keberlanjutan sudah masuk ke dalam strategi pertumbuhan, bukan aksesori branding. "Transformasi industri tidak hanya ditentukan oleh inovasi produk dan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan pelaku usaha mengembangkan bisnis yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan," ujar Leonarita.

Angka-angka makro mendukung optimisme itu. PDB Indonesia diproyeksikan mencapai USD 6,13 triliun pada 2028, dengan target pertumbuhan ekonomi 5,8-6,3 persen pada 2026. Sektor hospitality sendiri diperkirakan tumbuh hingga tiga kali lipat pada 2030. Bagi investor dan pelaku usaha F&B, window-nya terbuka lebar. Pertanyaannya hanya satu: siapa yang cukup siap masuk di siklus ini?