Dua ratus lima puluh ribu kopi terjual sebelum kebanyakan orang selesai sarapan. Begitulah cara Paralives Studio merayakan hari pertama Early Access mereka di Steam pada 25 Mei 2026, debut yang agaknya melampaui ekspektasi sang pengembang sendiri.
Game simulasi kehidupan indie garapan Alex Massé dan tim kecilnya ini resmi tersedia di Steam seharga sekitar USD 40 atau Rp700 ribuan. Dalam delapan jam pertama, penjualan menembus seperempat juta kopi, menempatkan Paralives sebagai salah satu debut paling mengesankan dalam genre life sim. Untuk sebuah proyek yang dibangun tanpa dukungan penerbit besar dan selama hampir tujuh tahun mengandalkan komunitas Patreon sebagai sumber pendanaan, angka itu bukan sekadar pencapaian komersial. Ini semacam sinyal dari pasar. Sinyal yang cukup keras.
Sinyalnya jelas: ada jutaan pemain yang sudah bosan dengan The Sims dan mendambakan sesuatu yang berbeda. Franchise EA itu telah memonopoli genre simulasi kehidupan selama lebih dari dua dekade, dan komunitas life sim tampaknya sudah lama menahan napas menunggu penantang serius. Paralives hadir mengisi kekosongan itu, setidaknya untuk saat ini.
Kekuatan terbesar Paralives terletak pada alat kreasi yang dimilikinya. Sistem pembangunan rumah tanpa grid memungkinkan penempatan objek secara bebas, lengkap dengan opsi dinding melengkung dan pengaturan ukuran objek yang fleksibel. Variasi warna dan tekstur yang luas, detail kecil seperti pilihan gagang pintu berbeda pada meja dapur, hingga kontrol ukuran dan posisi furnitur memberikan kebebasan yang sulit ditemukan di game sejenis. Bagi penggemar build mode, ini ibarat surga.
Fitur Paramaker untuk membuat karakter juga menuai pujian. Pemain dapat mengatur lapisan makeup, pakaian, dan proporsi tubuh dengan sangat detail. Yang patut dicermati, elemen inklusif seperti alat bantu disabilitas dan opsi vegetarian tersedia sebagai pilihan terpisah dari atribut karakter, mencerminkan kepekaan desain yang baru belakangan ini diadopsi oleh kompetitor setelah bertahun-tahun diabaikan.
Tapi live mode? Jujur saja, masih jauh dari memuaskan. Bug bertebaran, performa anjlok saat berpindah lokasi, dan beberapa menu macet hingga mengharuskan restart game. Interaksi antar karakter kerap gagal tanpa penjelasan yang jelas, sistem otonomi karakter masih sangat sederhana dibanding simulasi lain yang lebih matang. Pengembang sendiri mengakui ini, dan beberapa reviewer menyarankan pemain kasual untuk menunggu patch berikutnya sebelum membeli.
Yang memberi harapan adalah responsivitas studio. Dalam beberapa jam pertama pasca-peluncuran, patch sudah mulai dikerjakan dan studio mengonfirmasi bahwa masukan pemain akan langsung membentuk arah pengembangan. Paralives Studio juga menjanjikan seluruh update besar selama masa Early Access hadir secara gratis, mencakup musim, hewan peliharaan, kolam renang, hingga fitur sosial baru yang sudah masuk roadmap.
Satu fitur yang sudah cukup menarik adalah sistem permintaan dari karakter non-pemain, semacam quest sederhana yang mengingatkan pada mekanisme Stardew Valley. Permintaan seperti mengunjungi gym atau membersihkan pantai memberi alasan bagi pemain untuk menjelajahi kota alih-alih terkurung di dalam rumah. Sentuhan kecil, tapi efektif.
Paralives belum siap buat semua orang. Tapi bagi 250.000 pemain yang sudah masuk di hari pertama, game ini cukup menjanjikan untuk dipertaruhkan Rp700 ribu. Ujian sesungguhnya bukan di hari peluncuran. Ujian itu datang di bulan-bulan berikutnya, ketika euforia mereda dan komunitas mulai menagih janji roadmap.