Per Senin pagi (20/7), total pemesanan Obligasi Negara Ritel seri ORI030 menembus Rp28,19 triliun, setara 94% dari kuota nasional Rp30 triliun yang sudah diperlebar pemerintah dari rencana awal Rp20 triliun. Masa penawaran masih berjalan hingga 30 Juli 2026, tapi barangnya nyaris habis duluan.
Waktunya kian sempit.
Breakdown-nya berbicara sendiri: ORI030-T3 dengan tenor tiga tahun dan kupon 6,9% per tahun telah terserap 96,7% dari jatah Rp25 triliun, menyisakan sekitar Rp825 miliar. ORI030-T6, tenor enam tahun berkupon 7,0%, masih menyisakan 19,7% dari kuota Rp5 triliun. Preferensi pasar terbaca jelas, investor ritel memilih kepastian jangka pendek ketimbang mengunci dana lebih lama, meski selisih kuponnya cuma 10 basis poin.
Daya tariknya memang sulit dibantah. ORI030 menawarkan kupon tetap yang dibayarkan tiap bulan, dijamin penuh oleh pemerintah, dan dikenai pajak kupon hanya 10%, separuh dari tarif pajak bunga deposito yang mencapai 20%. Minimum pembelian Rp1 juta, jadi investor pemula pun bisa masuk. Kalau data ini bisa dipercaya sebagai tolok ukur minat publik terhadap instrumen negara, angka 94% dalam hitungan hari memang tidak main-main.
Tapi ada ironi yang agaknya luput dari euforia penjualan.
Ketika pemerintah memuji ORI sebagai instrumen "untuk rakyat", investor yang berbondong-bondong masuk justru menerima imbal hasil paling kecil dibanding kelas investor lain yang sama-sama menaruh dana pada surat utang negara. Kupon 6,9% hingga 7,0% terlihat kompetitif dibanding deposito perbankan, tapi perbandingan itu bisa jadi tidak sepenuhnya apple-to-apple kalau investor ritel mulai menengok yield obligasi seri lain yang diperdagangkan di pasar sekunder.
Pertanyaannya, berapa lama logika ini dibiarkan berjalan?
Penambahan kuota dari Rp20 triliun ke Rp30 triliun, yang oleh pemerintah disebut sebagai respons atas tingginya permintaan, bisa dibaca dari sudut lain. Saat jatah T3 dinaikkan drastis ke Rp25 triliun dan masih terserap lebih dari 96%, ini bukan sekadar cerita sukses distribusi, setidaknya itu klaim manajemen fiskal yang perlu dicermati lebih dalam. Ini juga cermin betapa hausnya investor ritel Indonesia akan instrumen aman yang masuk akal, di saat pilihan lain terasa kering.
Sisa kuota ORI030-T3 yang tinggal 3,3% itu bisa ludes dalam hitungan hari. Bagi yang masih mengincar tenor pendek, pintu hampir tertutup.