SABTU, 10 OKTOBER 2026

Home  ›  Tekno  ›  OpenAI Tutup Atlas, Fitur Browser AI Hidup Terus d...

Tekno

OpenAI Tutup Atlas, Fitur Browser AI Hidup Terus di ChatGPT dan Chrome

Atlas resmi ditutup, tapi ambisi OpenAI di ruang browser justru tidak mati. Fitur agennya kini dipindah ke tempat yang lebih strategis: aplikasi desktop ChatGPT dan ekstensi Google Chrome.

OpenAI Tutup Atlas, Fitur Browser AI Dipindah ke ChatGPT dan Chrome

Beberapa bulan setelah diluncurkan Oktober lalu, Atlas resmi ditutup. Browser berbasis AI besutan OpenAI itu tidak bertahan lama, tapi bukan karena OpenAI kalah dari kompetitor. Mereka agaknya sampai pada kesimpulan bahwa browser adalah fitur, bukan produk.

Fitur penjelajahan berbasis agen yang sebelumnya diuji di Atlas kini dipindah ke dua tempat: aplikasi desktop ChatGPT dan ekstensi baru di Google Chrome. TechCrunch yang pertama melaporkan perpindahan ini, menyebutnya sebagai langkah pragmatis setelah berbulan-bulan bereksperimen. Alih-alih memaksa pengguna berpindah ke browser baru yang belum terbukti, OpenAI memilih masuk ke habitat pengguna yang sudah ada.

Ekstensi ChatGPT untuk Chrome bisa membaca konteks halaman yang sedang dibuka, menjawab pertanyaan soal isinya, membuat ringkasan, atau membantu memulai tugas yang lebih panjang langsung dari jendela browser. Ini berhadapan langsung dengan Gemini Side Panel milik Google yang menawarkan fungsi serupa. Persaingan di sini akan sengit. Google bermain di kandang sendiri.

Aplikasi desktop ChatGPT pun diperkuat dengan kemampuan browser yang lebih serius. Pengguna bisa menjelajahi situs web, masuk ke akun, mengunduh file, dan berinteraksi dengan halaman tanpa harus keluar dari antarmuka ChatGPT. OpenAI juga menyiapkan browser cloud yang berjalan di server perusahaan, khusus untuk agen AI yang menyelesaikan tugas atas nama pengguna di belakang layar. Agen AI, artinya, tidak sekadar menjawab pertanyaan, tapi benar-benar mengeksekusi instruksi pengguna secara otonom.

Penutupan Atlas bukan kejutan kalau dilihat dari konteksnya. CEO aplikasi OpenAI Fidji Simo sebelumnya sudah meminta timnya memangkas "side quests", proyek-proyek sampingan yang menyita fokus. Arahan itu disebut-sebut berujung pada penutupan Sora, alat pembuat video AI milik OpenAI yang sempat menuai banyak atensi. Atlas, entah kebetulan atau tidak, bernasib sama.

Kompetisi di ruang browser AI sedang panas. Perplexity meluncurkan Comet. The Browser Company merilis Dia. Google dan Microsoft terus memperbarui Chrome serta Edge dengan lapisan AI baru. Ramai, tapi belum ada pemenang jelas. OpenAI tampaknya memilih tidak ikut rebutan membangun browser dari nol.

Strategi yang lebih cerdas? Bisa jadi. Kalau data pangsa pasar ini bisa dipercaya, Chrome sudah dikuasai lebih dari 60 persen pengguna internet global. Daripada meyakinkan ratusan juta orang beralih ke platform baru, OpenAI langsung menumpang di rumah yang sudah penuh isinya. Risikonya lebih kecil, jangkauannya jauh lebih lebar. Pertanyaannya, seberapa jauh Google membiarkan OpenAI nyaman bersarang di Chrome miliknya sendiri.