JUMAT, 2 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  OpenAI Menang Telak, Jalan IPO US$1 Triliun Kian T...

Bisnis

OpenAI Menang Telak, Jalan IPO US$1 Triliun Kian Terbuka

Juri federal Oakland memutuskan gugatan Elon Musk kadaluarsa, hanya butuh kurang dari dua jam untuk menjatuhkan putusan yang sekaligus melapangkan jalan IPO OpenAI bernilai jumbo.

OpenAI Menang Lawan Elon Musk, Jalan IPO US$ 1 Triliun Kian Mulus

Kurang dari dua jam. Segitu waktu yang dibutuhkan juri federal di Oakland, California untuk mengubur gugatan Elon Musk terhadap OpenAI, Senin (18/5/2026). Putusan bulat itu bukan hanya kekalahan pahit bagi miliarder pemilik xAI tersebut, tapi juga sinyal hijau bagi OpenAI untuk melanjutkan misi IPO yang disebut-sebut bisa membawa valuasinya menembus US$1 triliun, setara sekitar Rp16.300 triliun.

Juri memutuskan gugatan Musk diajukan terlambat, melewati batas waktu tiga tahun yang diatur hukum. Gugatan itu baru dilayangkan Agustus 2024, padahal OpenAI mengklaim Musk sudah mengetahui rencana ekspansi bisnis perusahaan jauh sebelum itu. Hakim Distrik AS Yvonne Gonzalez Rogers bahkan blak-blakan menyebut peluang banding Musk cukup berat, mengingat banyaknya bukti yang mendukung kesimpulan juri soal kedaluarsa tersebut.

Persidangan selama tiga pekan ini bukan perkara kecil. Musk menuding OpenAI, CEO Sam Altman, dan Presiden Greg Brockman memanipulasinya agar menyumbang US$38 juta saat perusahaan masih berbentuk nirlaba, lalu diam-diam membentuk entitas bisnis berorientasi laba dan menggaet pendanaan puluhan miliar dolar dari Microsoft. Investasi Microsoft ke OpenAI, yang terungkap dalam sidang, sudah melampaui US$100 miliar. Angka yang tidak main-main.

Pengacara OpenAI Bill Savitt menyebut gugatan itu sebagai "rekayasa belakangan" yang tidak sesuai fakta, semata upaya menghambat pesaing bisnis. Klaim itu agaknya diterima juri, mengingat betapa cepatnya mereka mencapai putusan.

Musk tidak terima. Lewat unggahan di platform X, ia kembali menembak Altman dan Brockman. "Altman dan Brockman memang memperkaya diri dengan mencuri organisasi amal. Pertanyaannya hanya kapan mereka melakukannya," tulisnya. Banding sudah dipastikan diajukan, meski hakim sendiri sudah mengisyaratkan jalan itu tidak akan mudah.

Kemenangan ini pun tidak sepenuhnya bersih bagi OpenAI. Selama persidangan, sejumlah saksi menyebut Altman sebagai sosok yang tidak dapat dipercaya, noda reputasi yang tidak bisa begitu saja dihapus dengan putusan juri. Pengacara Musk, Steven Molo, bahkan menjadikan kredibilitas Altman sebagai inti utama perkara. Kalau juri tidak percaya Altman, begitu argumennya, OpenAI seharusnya kalah.

Analis Wedbush Dan Ives menilai ini tetap kemenangan besar. "Ini kemenangan besar bagi Altman dan OpenAI, meski reputasi dan kepemimpinan Altman sempat terpukul selama persidangan," ujarnya.

OpenAI didirikan pada 2015 oleh Altman, Musk, dan sejumlah tokoh Silicon Valley lainnya. Musk hengkang dari dewan pada 2018, setahun sebelum OpenAI mulai membangun unit bisnis komersialnya. Sejak itu hubungan keduanya memburuk, dan Musk mendirikan xAI sebagai pesaing langsung.

Persidangan ini, entah kebetulan atau tidak, juga membuka perdebatan yang lebih luas soal arah industri AI global. Siapa yang berhak menikmati manfaatnya. Bagaimana teknologi itu seharusnya dikuasai. Pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya belum selesai, meski palu sudah diketuk.