Dua belas tahun setelah OnePlus One menggebrak pasar dengan spesifikasi dewa di harga yang membuat konsumen Barat tercengang, merek asal Tiongkok itu kini dilaporkan bersiap mengakhiri kehadirannya di Amerika Serikat dan Eropa. Boleh jadi, selamanya.
Laporan eksklusif WinFuture yang terbit 13 Juli 2026 menjadi bom waktu yang meledak di komunitas penggemar global. Media teknologi Jerman itu mengklaim bahwa Oppo dan anak mereknya akan mengumumkan keputusan final dalam hitungan hari. Tak lama, laporan itu langsung disambar Android Police, GSMArena, Droid-Life, hingga The Verge.
Yang membuat laporan ini terasa kredibel bukan semata nama WinFuture yang punya rekam jejak solid soal bocoran teknologi. Sinyal lapangan sudah terbaca jauh sebelumnya. OnePlus 15 dan 15R praktis lenyap dari toko resmi di Eropa dan AS. Di Amazon.com, produk OnePlus tidak bisa ditemukan. Sebuah toko resmi di Jerman bahkan sudah mulai mengarahkan pelanggan ke gerai Oppo di sebelahnya. Stok yang tersisa di pengecer pihak ketiga dikabarkan sedang dikuras tanpa rencana pengisian ulang.
Bukan tanpa peringatan. Januari 2026, rumor restrukturisasi internal pertama kali mencuat. Manajemen membantah keras, menegaskan operasional di Amerika Utara berjalan normal. Bantahan yang, kalau data ini bisa dipercaya, tidak sepenuhnya jujur. April lalu, OnePlus akhirnya mengakui sedang "mengevaluasi peta jalan regional" di Eropa, eufemisme korporat yang belakangan terbukti jadi pertanda nyata.
Lalu soal pengguna yang sudah telanjur beli? Perusahaan berjanji merilis pembaruan Android dan patch keamanan sesuai jadwal dukungan resmi. Terdengar meyakinkan di atas kertas. Tapi komunitas OnePlus di forum-forum online menggambarkan kenyataan berbeda. Di Reddit, keluhan soal proses perbaikan berbulan-bulan, perangkat yang kembali dengan masalah baru, hingga voucher yang diberikan sebagai "pengganti" servis fisik sudah berlalu-lalang sejak lama. Program diskon pelajar pun dilaporkan sudah ditutup. Sinyal kecil yang biasanya mendahului penarikan besar.
OnePlus rupanya tidak akan sepenuhnya dibubarkan. Merek ini tetap hidup, tapi hanya untuk pasar China dan India, bukan lagi sebagai entitas global yang berdiri sendiri, melainkan lini produk di bawah payung Oppo. Menyedihkan, memang. OnePlus pernah berdiri sebagai antitesis dari merek smartphone konvensional.
OxygenOS, yang dulu jadi daya tarik utama buat para power user Android, juga dirumorkan akan dipensiunkan dan digabung ke ColorOS milik Oppo. Integrasi yang sebenarnya sudah berjalan bertahap sejak beberapa tahun lalu, dari penggabungan tim riset hingga penyatuan basis kode.
Sejak OnePlus One meluncur pada 2014 dengan slogan "Never Settle", merek ini membuktikan bahwa spesifikasi flagship tidak harus datang dengan harga flagship. Ia memaksa pabrikan besar berpikir ulang soal nilai dan harga. Kini, setelah persaingan makin brutal dan konsolidasi grup tak terelakkan, eksperimen itu agaknya sudah mencapai titik akhirnya di pasar Barat.
Satu pertanyaan menggantung: bagaimana nasib OnePlus di Asia Tenggara, termasuk Indonesia? Belum ada kejelasan apakah keputusan ini akan merembet ke kawasan lain. Pelanggan di sini mungkin masih bisa bernapas lega. Setidaknya untuk sementara.