Akhir 2025, peta persaingan perbankan syariah Indonesia bakal berubah. Bukan karena BSI tiba-tiba melemah, tapi karena OJK sedang menyiapkan pemain baru yang cukup serius untuk masuk ring.
PT Bank Syariah Nasional, hasil spin-off Unit Usaha Syariah (UUS) milik PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN), dijadwalkan beroperasi sebelum tutup tahun ini. Bukan sekadar pemisahan administratif. Setelah spin-off rampung, OJK membuka ruang bagi penggabungan usaha guna melahirkan bank umum syariah dengan skala yang lebih kompetitif.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyatakan agenda konsolidasi itu sudah tertuang dalam Roadmap Pengembangan dan Penguatan Perbankan Syariah Indonesia (RP3SI) 2023-2027. "OJK senantiasa mendorong konsolidasi perbankan syariah, antara lain melalui spin off Unit Usaha Syariah (UUS) yang dapat diikuti dengan penggabungan usaha untuk menghasilkan bank umum syariah (BUS) dengan skala lebih besar," ujarnya dalam jawaban tertulis, dikutip Selasa (7/4).
Ambisius? Jelas.
Selama ini BSI, yang lahir dari peleburan tiga bank syariah BUMN pada 2021, nyaris tidak punya lawan sepadan di segmen bank umum syariah. Konsolidasi yang kini digeber OJK agaknya memang diarahkan untuk mengisi kekosongan itu, membentuk struktur industri yang tidak terlalu bertumpu pada satu pemain dominan. Ibarat liga tanpa kompetitor, BSI selama ini bermain di arena yang terlalu lengang.
Pertanyaannya buat investor: seberapa cepat bank hasil spin-off BTN ini bisa membangun basis nasabah dan ekuitas yang cukup untuk benar-benar bersaing? Spin-off saja tidak otomatis menghasilkan entitas yang tangguh. Butuh modal, manajemen, dan waktu. Kalau jadwal ini bisa dipegang, akhir 2025 jadi penanda penting bagi industri syariah nasional.