Angka 2,1 persen itu yang seharusnya membuat pelaku pasar berhenti sejenak dan berpikir ulang soal outlook portofolio mereka tahun ini.
OECD pada Rabu (3/6/2026) merilis proyeksi terbarunya: pertumbuhan ekonomi global berpotensi melambat tajam dari 3,4 persen di 2025 menjadi hanya 2,1 persen di 2026. Bukan skenario baseline. Ini skenario terburuk, kalau gangguan akibat konflik di Timur Tengah terus berlanjut hingga 2027. Bahkan dalam skenario yang lebih "jinak", di mana gangguan terhadap pengiriman di Selat Hormuz hanya bersifat sementara dan harga energi mulai mereda dari pertengahan 2026, lembaga yang bermarkas di Paris itu tetap memangkas proyeksinya menjadi 2,8 persen, turun dari estimasi Maret sebesar 2,9 persen. Bukan penurunan dramatis, tapi arahnya jelas.
Yang lebih menggigit: skenario pesimistis untuk 2027 menyeret pertumbuhan global ke 1,8 persen. OECD secara eksplisit menyebut risiko meningkatnya pengangguran, pelemahan investasi termasuk di sektor AI yang rakus energi, hingga kemungkinan repricing di pasar keuangan. Kalimat terakhir itu, bagi siapa pun yang pegang aset berisiko, agaknya perlu dibaca dua kali.
Semua jalan pulang melewati Selat Hormuz. Sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati jalur sempit itu setiap harinya, dan gangguan di sana bukan cuma soal harga minyak naik, tapi soal rantai pasok energi global yang bisa kehilangan prediktabilitasnya sepenuhnya.
Data dari pasar energi AS minggu ini justru menambah kompleksitas gambaran tersebut. American Petroleum Institute melaporkan penurunan stok minyak mentah AS sebesar 6,75 juta barel, jauh melampaui ekspektasi pasar yang biasanya mengantisipasi penurunan 2-3 juta barel. Stok gasoline justru melonjak 3,45 juta barel, sinyal bahwa kilang-kilang beroperasi kencang tapi permintaan produk hilir belum tentu sepadan. Stok di Cushing, Oklahoma, titik pengiriman acuan kontrak WTI, ikut tergerus 0,28 juta barel, memperkuat narasi penarikan stok yang tajam di sisi hulu.
Gambarannya kontradiktif tapi informatif. Bahan baku diserap agresif, produk jadinya menumpuk. Bisa jadi ini refleksi aktivitas kilang yang sedang full throttle, bisa juga cermin dari permintaan konsumen akhir yang mulai tertahan. Pasar WTI dan Brent kemungkinan merespons positif penarikan stok mentah yang besar, tapi surplus gasoline berpotensi menjadi rem yang membatasi kenaikan. Pertanyaannya: berapa lama dua sinyal berlawanan ini bisa hidup berdampingan?
Konteks inilah yang membuat proyeksi OECD terasa lebih relevan dari sekadar angka di laporan. Harga energi yang bergejolak, jalur distribusi yang rentan, investasi yang ragu-ragu. Kombinasi yang sudah pernah kita lihat ujungnya di 2008 dan 2014. Kali ini variabelnya berbeda, tapi pola ketidakpastiannya, kalau data ini bisa dipercaya, tidak asing sama sekali.
Bagi investor di pasar domestik, transmisi risiko ini bisa datang dari beberapa arah sekaligus: tekanan inflasi energi yang mempersulit ruang gerak Bank Indonesia, perlambatan permintaan ekspor jika ekonomi mitra dagang utama ikut tertekan, hingga sentimen risk-off yang mendorong arus modal keluar dari emerging market. Entah kebetulan atau tidak, rupiah dan IHSG belakangan ini memang belum menunjukkan tanda-tanda tenang.