Selat Hormuz sedang menanggung beban yang jauh melampaui kapasitasnya sebagai jalur pelayaran biasa. Sekitar 14 juta barel minyak per hari yang biasanya melintas di sana kini terhenti sejak Februari 2026. Para analis di S&P Global Middle East Petroleum & Gas Conference pekan lalu mengingatkan bahwa efek panic buying yang sempat menopang permintaan mulai memudar, cadangan darurat global pun terus terkuras.
Dampaknya sudah jauh melampaui sekadar kenaikan harga minyak. OECD, dalam laporan Economic Outlook edisi Juni 2026 bertajuk Under Pressure, menulis tegas bahwa konflik Timur Tengah kini menjadi "kekuatan dominan yang membentuk prospek ekonomi global." Kalimat itu tidak berlebihan.
Lembaga tersebut mencatat pasokan minyak dunia ambles 13,5 persen antara Februari dan April 2026. Produksi negara-negara Teluk bahkan lebih parah, anjlok 45 persen di bulan April. Ekspor LNG dari Qatar nyaris lumpuh total akibat kerusakan fasilitas produksi. Tidak hanya soal minyak dan gas: konflik juga memutus pasokan sulfur, helium, amonia, urea, hingga aluminium, bahan-bahan yang menopang rantai produksi industri manufaktur global.
OECD menyiapkan dua skenario untuk menggambarkan ke mana arah ekonomi dunia 18 bulan ke depan. Skenario pertama, yang lebih optimistis, mengasumsikan perdamaian tercapai dan harga energi mulai turun sejak pertengahan 2026. Dalam kondisi itu, pertumbuhan global melambat dari 3,4 persen pada 2025 menjadi 2,8 persen tahun ini, lalu kembali ke 3,1 persen pada 2027. Masih bisa diterima.
Skenario kedua jauh lebih suram. Kalau gangguan berlanjut hingga paruh kedua 2027, pertumbuhan global hanya mencapai 2,1 persen tahun ini dan 1,8 persen tahun depan. Angka 1,8 persen itu bukan statistik lesu biasa. Di level itu, beberapa ekonomi bisa masuk resesi atau setidaknya berdiri sangat dekat dengan jurangnya.
Inflasi ikut terdorong naik. Dalam skenario dasar, inflasi negara-negara G20 diproyeksikan naik ke 4 persen pada 2026 dari 3,4 persen tahun lalu. Dalam skenario buruk, tambahannya bisa mencapai 1,3 poin persentase lebih tinggi pada 2027 dibanding baseline. Bank sentral tersudut: ekonomi melambat di satu sisi, inflasi memanas di sisi lain. Resep untuk sakit kepala panjang.
Asia, agaknya, ada di posisi paling tidak nyaman dari semuanya. Ketergantungan kawasan ini pada impor energi dari Teluk membuat eksposurnya lebih langsung dibanding wilayah lain. OECD secara eksplisit menyebut "banyak perekonomian Asia yang paling langsung terpapar guncangan ini." Indonesia, yang masih bergantung besar pada impor BBM dan LPG, tentu masuk dalam daftar yang perlu waspada.
Ada satu dimensi yang membedakan krisis ini dari guncangan energi sebelumnya: peran AI. Sebelum eskalasi konflik, investasi dan perdagangan terkait kecerdasan buatan menjadi salah satu penopang utama ekonomi global, khususnya di Asia lewat booming produksi semikonduktor di China, Korea Selatan, dan Jepang. OECD bahkan mengakui investasi AI menjadi alasan mengapa ekonomi dunia memasuki 2026 dengan momentum yang lumayan kuat. Kini, infrastruktur AI yang rakus energi dan bergantung pada komponen dari kawasan Teluk ikut terancam. Dalam skenario gangguan berkepanjangan, OECD memperingatkan investasi AI "akan melemah secara signifikan."
Bagi negara berkembang, konsekuensinya bisa lebih berat lagi. Kapasitas fiskal yang terbatas, mata uang yang rapuh, porsi pengeluaran energi serta pangan yang lebih besar dalam konsumsi rumah tangga, semuanya membuat kelompok ini paling sedikit punya bantalan untuk menyerap guncangan. Setidaknya itu yang diingatkan OECD.
Pertanyaan yang belum terjawab, dan mungkin itulah yang paling menggelisahkan pasar: seberapa cepat Selat Hormuz bisa kembali normal? Enam hingga delapan bulan setelah perdamaian tercapai, begitu perkiraan pakar IEA, sebelum jalur itu benar-benar pulih. Stok cadangan menipis. Tidak ada jalan pintas untuk menggantinya.