Dua keputusan besar keluar dari RUPST PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) yang digelar Kamis (9/4/2026), dan keduanya layak dicermati lebih dari sekadar berita korporasi rutin.
NISP resmi mengambil alih saham PT OCBC Sekuritas Indonesia dan PT Great Eastern Life Indonesia (GELI). Bukan akuisisi biasa. Ini adalah konsekuensi regulasi: OCBC Indonesia diwajibkan bertransformasi menjadi perusahaan induk konglomerasi keuangan operasional sesuai POJK No. 30 Tahun 2024, setelah OJK menerbitkan persetujuan formal melalui Keputusan Anggota Dewan Komisioner No. Kep-14/KS.1/2025 tertanggal 16 September 2025.
Selama ini, kedua entitas itu berada langsung di bawah OCBC Bank Singapura. OCBC Sekuritas Indonesia dikuasai 99% oleh OCBC Singapore Ltd., sementara GELI dipegang 99,48% oleh The Great Eastern Life Assurance Company, anak usaha OCBC Group. Dengan langkah ini, kepemilikan bergeser ke NISP sebagai induk operasional di Indonesia.
"Rapat menyetujui pengambilalihan saham PT OCBC Securities Indonesia dan PT Great Eastern Life Indonesia oleh perseroan, dalam rangka pelaksanaan sebagai perusahaan induk konglomerasi keuangan sesuai ketentuan yang berlaku," kata Presiden Direktur OCBC Indonesia Parwati Surjaudaja dalam konferensi pers usai RUPST.
Restrukturisasi semacam ini agaknya sudah lama tinggal menunggu waktu. Bank yang sebelumnya murni bermain di segmen perbankan kini secara formal menaungi lini sekuritas dan asuransi jiwa di bawah satu atap hukum Indonesia. Dimensi bisnis NISP berubah cukup signifikan, kalau data regulasi ini bisa dijadikan patokan.
Soal kinerja, angkanya tidak mengecewakan. Laba bersih 2025 tercatat Rp5,1 triliun, naik dari Rp4,9 triliun setahun sebelumnya. CASA melonjak ke Rp141,1 triliun dari Rp114 triliun, dana pihak ketiga tembus Rp243,5 triliun, total aset Rp308,1 triliun, dan ekuitas Rp43,9 triliun. Solid, tanpa asterisk.
Parwati menyebut bank berhasil menjaga keseimbangan antara ekspansi kredit yang selektif, pengelolaan risiko yang baik, serta penguatan basis nasabah secara berkelanjutan. Klaim yang, jujur saja, ditopang langsung oleh data di atas.
Dari laba Rp5,1 triliun itu, sebesar Rp1,03 triliun atau setara Rp45 per saham diputuskan sebagai dividen tunai, mencerminkan dividend payout ratio 20,42%. Sisanya, 80 persen masuk ke laba ditahan, dengan Rp1 miliar disisihkan untuk cadangan umum. Bagi pemegang saham yang ingin kebagian, cum dividen dijadwalkan 17 April 2026.
Payout ratio 20 persen memang konservatif dibanding beberapa bank besar lain. Tapi bak gayung bersambut, ekspansi struktur konglomerasi yang baru saja disahkan memberi konteks yang masuk akal. Modal butuh ruang. Pertanyaannya, seberapa agresif NISP akan mendorong sinergi ketiga entitas ini dalam 12 bulan ke depan?