Harga termurahnya dimulai dari US$2.599, setara sekitar Rp42 jutaan. Di ujung lain spektrum, laptop kreator ASUS dibanderol hingga Rp112,99 juta. Segmen laptop premium AI sedang bergerak cepat, dan ia tidak sedang menunggu pengguna mainstream ikut serta.
Nvidia bersama Microsoft memperkenalkan platform RTX Spark, kategori laptop baru berbasis Windows on Arm yang dioptimalkan untuk pekerjaan AI lokal. Berbeda dari laptop Windows konvensional, RTX Spark menggunakan arsitektur system-on-chip Nvidia dengan dukungan CUDA native, sesuatu yang sebelumnya hanya bisa dinikmati di ekosistem Apple Silicon. Unified memory menjadi fitur kunci: pada konfigurasi 128GB, pengguna bisa mengalokasikan hingga 96GB ke GPU, jauh melampaui kapasitas GPU diskrit di laptop manapun yang tersedia hari ini.
Di sinilah proposisi nilai platform ini bermain. Tom Mainelli, Group Vice President of Device & Consumer Research di IDC, menyebut arsitektur ini berpotensi mengubah perhitungan biaya bagi pengembang AI. "Because the unified memory architecture makes it possible to allocate more memory to the GPU than you can buy in a system with a discrete GPU, it could change the value proposition," kata Mainelli. Secara teori, pengembang bisa memangkas pengeluaran untuk token cloud dengan menjalankan model besar secara lokal.
Teori, tentu saja, masih perlu dibuktikan. Tapi setidaknya itu klaim yang masuk akal.
Mainelli sendiri mengakui masih terlalu dini untuk memastikan skenario penghematan itu terwujud. Dibutuhkan pengguna yang cerdas, bersedia keluar uang besar di muka, lalu rela bereksperimen panjang dengan model lokal agar hasilnya benar-benar optimal. Soal hambatan praktis, jawabannya lugas: "Today, it is cost," ujar Mainelli.
Platform ini tidak pernah menyamar sebagai produk untuk semua orang. Target pasarnya sempit dan disengaja: pengembang AI, kreator konten, dan early adopter yang sudah paham mengapa mereka menginginkan kombinasi CUDA, unified memory, dan kemampuan inferensi lokal di Windows. Mainelli memposisikan RTX Spark sebagai pesaing langsung MacBook Pro dengan konfigurasi serupa. Bukan laptop gaming. Bukan pengganti laptop kantoran biasa.
Soal gaming, agaknya ada cerita menarik di sini. Nvidia sempat memperlihatkan beberapa judul game berjalan di sistem RTX Spark, dan pengujian tim Tom's Guide mencatat performa yang setara dengan laptop gaming RTX 5070. Mainelli menyebut pengalaman gaming-nya solid. Tapi ia mengingatkan bahwa gaming di RTX Spark hanya opsi sampingan, bukan fungsi inti yang dijual. Ibarat pedang bermata dua: mampu, tapi tidak dirancang untuk itu.
Sementara Nvidia membangun narasi platform, ASUS melengkapi lanskap dengan lineup laptop kreator yang masuk dalam ekosistem serupa, dengan banderol yang bisa menembus Rp112,99 juta di konfigurasi tertinggi. Angka yang, entah kebetulan atau tidak, mencerminkan watak segmen ini secara keseluruhan: tipis, bertenaga, dan tidak murah.
Windows on Arm masih menyisakan tanda tanya bagi sebagian calon pembeli. Microsoft, Qualcomm, dan para vendor PC telah bekerja keras beberapa tahun terakhir mengatasi isu kompatibilitas, dan hasilnya sudah jauh lebih baik. Tapi skeptisisme lama tidak mudah hilang, apalagi ketika label harganya sekelas ini.
Mainelli memperkirakan dalam 12 hingga 18 bulan ke depan akan ada lebih banyak produk berbasis RTX Spark, termasuk kemungkinan lini komersial. "I'm confident we'll see additional products ship leveraging the RTX Spark platform in the future," katanya. Fokus Nvidia dan mitranya agaknya tidak akan bergeser dari segmen premium dalam waktu dekat. Pertanyaan sesungguhnya: apakah keunggulan AI lokal itu akan terasa cukup nyata dalam pekerjaan sehari-hari untuk membenarkan biaya masuknya? Jawaban atas pertanyaan itulah yang akan menentukan apakah pasar platform ini tetap sempit atau akhirnya melebar.