SABTU, 17 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  NTP Nasional Mei 2026 Tembus 127,73, tapi Nelayan...

Ekonomi

NTP Nasional Mei 2026 Tembus 127,73, tapi Nelayan Justru Ketinggalan

Harga beras naik dari hulu ke hilir pada Mei 2026, dan kali ini petani padi ikut menikmati hasilnya. NTP nasional menguat ke 127,73, sementara NTB bahkan menorehkan angka 130,44. Tapi ada satu sektor yang tidak kebagian: perikanan.

Harga Beras Kembali Melonjak, Benarkah Petani Ikut Tersenyum?

Harga beras di penggilingan sudah menyentuh Rp13.765 per kilogram pada Mei 2026, tertinggi dalam rangkaian data beberapa tahun terakhir. Di eceran, konsumen merogoh kocek hingga Rp15.358 per kilogram. Bagi sebagian besar rumah tangga Indonesia, angka-angka itu adalah kabar yang tidak menyenangkan. Bagi petani padi, ceritanya lain.

Badan Pusat Statistik mencatat Nilai Tukar Petani nasional pada Mei 2026 mencapai 127,73, naik 1,99% dibanding April. NTP adalah cara paling sederhana untuk membaca apakah petani benar-benar untung atau sekadar sibuk. Kalau angkanya di atas 100, nilai yang diterima dari hasil jual lebih besar dari yang dikeluarkan untuk kebutuhan hidup dan produksi.

Pendorong utamanya bisa dibaca dari dua indeks penyusunnya. Indeks Harga Terima Petani naik 2,53% menjadi 163,16. Indeks Harga Bayar Petani? Hanya naik 0,53% menjadi 127,74. Selisih itulah yang mendongkrak daya beli petani. Kenaikan harga gabah kali ini agaknya benar-benar mengalir ke kantong petani padi, tidak habis ditelan rantai distribusi seperti yang kerap terjadi di tahun-tahun sebelumnya.

Fenomena ini menarik, kalau data ini bisa dipercaya sebagai sinyal awal. Dalam beberapa tahun terakhir, lonjakan harga beras sering kali tidak serta-merta berarti petani ikut tersenyum. Keuntungan terbesar justru dinikmati lapisan tengah rantai dagang. Mei 2026 memberi gambaran yang agak berbeda, meski belum bisa disebut tren yang sudah mapan.

Secara sektoral, hortikultura jadi bintang bulan ini. NTP-nya melesat 7,08% dalam sebulan ke angka 140,58. Bukan main. Subsektor perkebunan rakyat masih tertinggi secara absolut di 164,24, ditopang karet dan kakao yang harganya masih nyaman. Tanaman pangan membukukan NTP 113,79, naik 1,34%, sementara peternakan bergerak tipis ke 103,86.

Catatan serius justru datang dari perikanan. Saat hampir semua subsektor menikmati perbaikan, Nilai Tukar Petani Perikanan malah tergerus 0,64% menjadi 107,01. Nelayan spesifik mencatat 107,48, turun 0,47%. Pembudidaya ikan amblas lebih dalam, 0,90%, ke 106,25. Keuntungan dari lonjakan komoditas pertanian belum merambat ke sektor yang satu ini, entah karena dinamika harga ikan yang berbeda atau karena struktur biaya operasional nelayan yang memang tidak responsif terhadap perbaikan harga komoditas darat.

Bagi konsumen kota, kenaikan harga beras secara tahunan sudah mencapai 4,55% di tingkat eceran dan 8,10% di penggilingan. Angka yang tidak kecil, terutama bagi kelompok berpendapatan rendah. Pertanyaannya, berapa lama NTP yang menguat ini bisa bertahan? Jika tren ini berlanjut beberapa bulan, setidaknya ada satu narasi yang bisa dibangun: kenaikan harga kali ini tidak seluruhnya lenyap sebelum sampai ke petani.