Angka 18 persen itu yang paling mencolok.
Rasio kredit bermasalah di segmen Bank Perkreditan Rakyat Jawa Tengah tercatat sekitar 18 persen per akhir Maret 2026. Jauh di atas ambang batas kesehatan lima persen yang berlaku buat perbankan umum. NPL perbankan umum di provinsi ini sendiri masih terjaga di bawah level itu, tapi kondisi BPR agaknya butuh perhatian yang berbeda.
Kepala Kantor OJK Jawa Tengah Hidayat Prabowo menyebut angka itu sebagai ekor panjang pandemi Covid-19. Pelaku UMKM butuh waktu lebih lama untuk benar-benar bangkit dibanding segmen usaha lain, dan BPR menanggung beban itu lebih berat.
Konteks struktur ekonominya penting untuk dipahami. Jateng bertumpu kuat pada UMKM, yang artinya kesehatan kredit perbankan di provinsi ini nyaris mengikuti denyut usaha kecil dan menengah secara langsung. "Ketergantungan terhadap UMKM cukup tinggi, sehingga ketika sektor ini terdampak, otomatis akan memengaruhi kualitas kredit perbankan," kata Hidayat.
Pertanyaannya: bagaimana kalau tekanan eksternal datang bersamaan?
Gejolak geopolitik global, termasuk konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, membuat OJK tidak bisa duduk tenang. Hidayat menegaskan pihaknya terus mencermati perkembangan ini, khususnya dampak lanjutannya terhadap sektor riil. "Dampaknya tentu akan terasa, termasuk di daerah. Kami terus melakukan pengawasan, terutama melihat kondisi bank, kualitas kredit, serta potensi risiko yang muncul," ungkapnya.
Dari sisi penyaluran, kredit di Jateng sepanjang periode yang sama justru terkontraksi tipis 0,07 persen secara year-on-year. Bukan angka yang dramatis. Tapi arahnya patut dicermati, apalagi bila tekanan global mulai menggigit permintaan domestik lebih dalam.
OJK merumuskan kondisi sektor jasa keuangan Jateng saat ini dalam frasa "normal waspada." Kedengarannya seperti kompromi antara ketenangan dan kecemasan, dan mungkin memang begitu adanya. Normal, karena indikator utama masih dalam batas aman. Waspada, karena lanskap risikonya jauh dari sederhana.
Bagi investor dengan eksposur ke emiten perbankan yang basis nasabahnya didominasi UMKM, dinamika di Jateng ini bisa jadi cermin kecil untuk membaca tekanan kualitas aset secara lebih luas, setidaknya kalau data ini bisa dijadikan sinyal awal.