Rp 89,28 triliun. Itulah angka akumulasi net sell investor asing di Bursa Efek Indonesia sepanjang tahun ini, angka yang cukup untuk membuat pelaku pasar lokal terus berdiri di atas tanah yang goyah.
Pada perdagangan Kamis (9/7/2026), aksi jual asing memang sedikit menyusut dibanding hari sebelumnya. Net sell dalam volume turun dari 710,14 juta lembar menjadi 506,93 juta lembar. Total foreign sell tercatat 4,29 miliar lembar, sementara foreign buy mencapai 3,78 miliar lembar. Membaik, ya, tapi bukan berarti berhenti.
PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) jadi korban terbesar soal volume. Asing membeli 96,89 juta lembar saham BUKA, tetapi melepas 565,33 juta lembar, sehingga net sell-nya mencapai 468,44 juta lembar. Angka yang tidak main-main. Di bawahnya, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatat net sell sekitar 105 juta lembar, dan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) kena 85,44 juta lembar.
Dari sisi nilai rupiah, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang paling dihajar. Asing membeli 106,45 juta lembar tetapi menjual 175,92 juta lembar, menghasilkan net sell 69,46 juta lembar. Tekanan ini bukan baru kemarin: sehari sebelumnya, Rabu (8/7), asing juga mencatat net sell BBRI senilai Rp 142,1 miliar. Harga sahamnya pun merespons, amblas 1,08 persen ke Rp 2.760 per lembar. Analis CGS International Sekuritas Indonesia menempatkan support di kisaran Rp 2.710 hingga Rp 2.750, dengan target terdekat Rp 2.850 sampai Rp 2.910.
Tidak semua saham merana. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mencatat net buy tertinggi, 269,75 juta lembar. PT Darma Henwa Tbk (DEWA) menyusul dengan net buy hampir 130 juta lembar, diikuti PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) yang menutup dengan net buy 21,74 juta lembar.
IHSG pada sesi I sempat menguat tipis 12,23 poin atau 0,21 persen ke 5.885,69. IDX Basic, IDX Energy, dan IDX Transportation memimpin penguatan. Tapi itu sesi I. Sehari sebelumnya, Rabu (8/7/2026), Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mencatat net sell harian asing mencapai Rp 674,26 miliar, menambah tumpukan tekanan yang sudah berjalan sejak Januari.
Gambaran teknikal? Campuran, kalau tidak mau dibilang membingungkan. RSI menunjukkan sinyal negatif yang diperkuat penurunan volume, sementara Stochastics K-D masih memberikan sinyal positif. Reli IHSG yang sudah berlangsung lima hari beruntun tertahan di area resistance Fibonacci Retracement 61,8 persen dan membentuk pola downward bar. Sinyal klasik buat investor yang mulai terlalu percaya diri.
Nafan memperkirakan IHSG bergerak dengan support di 5.848 dan 5.723, serta resistance di 6.127 dan 6.257. Penguatan, katanya, masih mungkin terjadi kalau sentimen global kondusif dan tekanan jual asing mulai mereda. Dua syarat yang, jujur saja, belum tentu terpenuhi bersamaan dalam waktu dekat.
Sentimen global sendiri tidak sepenuhnya bersahabat. Ketegangan AS-Iran memanas setelah Presiden Donald Trump di KTT NATO di Ankara menyatakan berakhirnya gencatan senjata, memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi melalui Selat Hormuz dan mendorong lonjakan harga minyak. Rupiah pun masih tergerus di atas Rp 18.000 per dolar AS. Satu-satunya ruang napas datang dari risalah rapat The Fed yang bernada lebih dovish.
Ada lagi satu faktor yang agaknya luput dari perhatian banyak orang: keputusan S&P Dow Jones Indices yang memasukkan Indonesia ke dalam watchlist reklasifikasi pasar 2027. Sentimen negatif jangka pendek bagi IHSG, tidak perlu diperdebatkan. Tapi bagi OJK dan SRO, ini bisa jadi momen untuk mempercepat reformasi, dari peningkatan transparansi, likuiditas, porsi free float, hingga kemudahan akses bagi investor institusi global.
YTD, IHSG masih terkoreksi lebih dari 32 persen. Pertanyaannya bukan lagi kapan asing berhenti jual. Melainkan seberapa lama investor domestik sanggup menanggung beban itu sendirian.