SELASA, 6 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Net Foreign Sell 2026 Tembus Rp88,9 T, Kalahkan Re...

Bisnis

Net Foreign Sell 2026 Tembus Rp88,9 T, Kalahkan Rekor Pandemi 2020

Baru separuh tahun berjalan, aksi jual asing di bursa Indonesia sudah melampaui catatan setahun penuh saat Covid-19 melanda. IHSG hari ini menguat, tapi asing tetap cabut.

2026 Jadi Mimpi Buruk Pasar Saham, Net Foreign Sell Semester 1 Kalahkan Tahun 2020

Rp88,9 triliun. Angka itu bukan catatan setahun, melainkan akumulasi net foreign sell di pasar reguler Bursa Efek Indonesia hanya dalam enam bulan pertama 2026, terhitung sejak awal tahun hingga 3 Juli.

Sebagai pembanding: saat pandemi Covid-19 menghantam seluruh sistem keuangan global di 2020, net foreign sell sepanjang tahun penuh tercatat Rp62,8 triliun. Setengah tahun 2026 sudah melampaui itu. Bukan rekor yang ingin dipecahkan siapapun.

Yang membuat situasi ini agaknya lebih mengkhawatirkan dibanding 2020 adalah ketiadaan "alasan dramatis" yang setara. Saat Covid melanda, ada justifikasi jelas untuk pelarian modal. Sekarang, pelaku pasar masih mencoba mengurai apa sebenarnya yang mendorong asing keluar dengan konsistensi seperti ini. Pertanyaannya, berapa lama tren ini bertahan?

Perdagangan Selasa (7/7/2026) menyajikan cerita yang sedikit berbeda di permukaan. IHSG ditutup menguat 1,19 persen atau naik 70 poin ke level 5.986, didukung 430 saham yang berakhir di zona hijau berbanding 212 saham yang melemah. Volume transaksi tercatat 22,364 miliar saham dengan nilai Rp10,392 triliun, sesi yang cukup hidup, setidaknya di atas kertas.

Tapi jangan salah baca sinyalnya. Asing tetap mencatatkan net sell harian Rp205 miliar. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) jadi sasaran terbesar dengan tekanan jual Rp179 miliar, disusul PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) Rp107 miliar, PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) Rp72 miliar, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) Rp54 miliar, dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) Rp40 miliar.

Satu pengecualian mencolok: PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Justru jadi incaran utama asing dengan net buy Rp275 miliar, diikuti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) Rp54 miliar dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) Rp38 miliar. Kalau data ini bisa dipercaya sebagai sinyal, polanya terbaca sebagai rotasi, bukan kepercayaan penuh, asing meninggalkan saham tertentu sambil parkir sementara di nama-nama yang dianggap lebih defensif.

IHSG sendiri sempat amblas ke 5.890 di awal sesi sebelum berbalik dan menyentuh puncak harian 5.987 menjelang penutupan. Pembalikan yang cukup agresif. Level 6.000 belum tertembus.

Kapitalisasi pasar BEI berdiri di Rp10.489,057 triliun. Besar di atas kertas, tapi dengan tekanan jual asing yang sudah menggilas rekor pandemi baru setengah tahun berjalan, pertanyaannya bukan lagi soal hari ini ditutup hijau atau tidak. Sampai kapan investor domestik sanggup jadi penyangga tunggal?