Emoji 😭 kini bertakhta. Tahun 2025, si "nangis kejer" ini resmi menduduki puncak popularitas global, melompati tiga pesaing sekaligus dari posisi keempat: emoji hati merah, emoji tertawa sampai keluar air mata (😂), dan emoji tertawa berguling-guling (🤣). Satu lompatan, tiga korban.
Google menarik data ini dari sampel anonim sekitar 665 juta penggunaan emoji lewat Gboard, papan ketik bawaan di sebagian besar perangkat Android. Hasilnya cukup mengagetkan: emoji yang identik dengan tangisan deras itu kini berdiri di atas dua emoji tawa yang bertahun-tahun jadi simbol "ini lucu banget" di internet.
Bagi pengguna internet Indonesia, emoji ini bukan barang asing. "Nangis kejer" sudah lama jadi senjata andalan di kolom komentar, grup WhatsApp, sampai caption medsos. Maknanya kini jauh lebih luas dari sekadar ekspresi sedih. Pengguna memakainya ketika sesuatu terasa sangat lucu, sangat mengharukan, memalukan, atau begitu emosional sampai rasanya habis kata-kata. Dulu sesuatu yang ngakak dibalas barisan 😂, sekarang generasi muda bisa menggantinya dengan deretan 😭. Emosinya sama, hanya pilihan simbolnya yang bergeser.
Inilah yang disebut para ahli bahasa sebagai pergeseran leksikal digital. Sali A. Tagliamonte, profesor linguistik di University of Toronto, pernah menyatakan bahwa remaja, khususnya gadis remaja, selalu berada di barisan terdepan perubahan linguistik semacam ini. Tren bergerak cepat: begitu generasi yang lebih tua mulai akrab dengan suatu emoji, pengguna yang lebih muda cenderung meninggalkannya dan beralih ke yang lain.
Pola itu terbaca jelas di data. Emoji jempol (👍) yang dulu jadi simbol universal "oke" terus tergerus popularitasnya, sementara emoji tangan terlipat (🙏) justru naik daun. Di Indonesia, emoji ini punya tempat tersendiri: dari ucapan terima kasih, permohonan maaf, sampai menemani kalimat sakti "#izin" di grup WhatsApp kantor.
Perjalanan emoji moai (🗿) agaknya yang paling menggelitik untuk dicermati. Dari peringkat ke-482 pada 2021, patung batu abu-abu raksasa itu melesat ke posisi ke-33 pada 2025. Bukan kebetulan: Gen Z dan Gen Alpha memakainya sebagai ekspresi wajah datar, reaksi sarkastis "yang benar saja?", atau respons tanpa ekspresi ketika tidak ada kata yang cukup tepat. Emoji yang awalnya tidak dirancang untuk mengungkapkan emosi apapun kini jadi salah satu alat komunikasi paling ekspresif di tangan anak muda. Ironi yang cukup sempurna.
Pergeseran serupa terjadi pada emoji mawar layu (🥀). Simbol yang dulu sekadar gambar bunga kini dipakai remaja untuk mengungkapkan kesedihan, kelelahan emosional, atau patah hati, menggantikan emoji patah hati (💔) yang mulai terasa klise.
Adapun daftar lengkap 10 emoji teratas 2025 versi Google via Gboard: 😭 wajah menangis keras, 🤣 tertawa berguling, 😂 air mata kebahagiaan, hati merah, 🙏 tangan terlipat, wajah meniup ciuman, wajah dikelilingi hati, 👍 acungan jempol, wajah dengan mata hati, dan wajah menyeringai lebar. Dua posisi terbawah tidak bergerak dari tahun sebelumnya. Guncangan terbesar terjadi di bagian atas.
Dari lebih dari 3.600 emoji yang tersedia saat ini, hanya segelintir yang benar-benar mendominasi percakapan global. Kalau dipikir-pikir, ini cermin retak dari cara manusia berkomunikasi: dengan segala kerumitan emosi yang dimiliki, rupanya satu lusin simbol kecil sudah cukup untuk mengungkapkan hampir segalanya.