Juri California hanya butuh dua jam untuk memutuskan bahwa Elon Musk menunggu terlalu lama sebelum menggugat OpenAI. Kekalahan bulat, untuk gugatan yang tuntutannya mencapai 134 juta dollar AS. Tapi hasil persidangan itu agaknya bukan satu-satunya hal yang akan diingat pelaku industri dari drama tiga minggu di ruang sidang California.
Sepanjang persidangan, tim pengacara Musk berhasil menarik ke permukaan sesuatu yang lebih merusak dari sekadar dokumen hukum: kesaksian orang-orang yang paling dekat dengan Sam Altman. Mira Murati, mantan Chief Technology Officer OpenAI yang mengundurkan diri tahun lalu, tampil lewat rekaman video dan dengan gamblang menyebut Altman sebagai pemimpin yang tidak bisa diandalkan. Bukan sekadar kritik korporat biasa. Murati menggambarkan pola komunikasi manipulatif, kebiasaan menyampaikan informasi yang bertentangan kepada orang berbeda, dan kecenderungan menciptakan kebingungan yang disengaja di dalam organisasi.
Bukti paling dramatis muncul dari percakapan teks saat krisis November 2023 memuncak, ketika dewan direksi OpenAI tiba-tiba memecat Altman sebelum akhirnya mempekerjakannya kembali lima hari kemudian. Altman, dalam posisi paling rentan, mengirim pesan ke Murati: "Bisakah kamu memberi sedikit petunjuk? Apakah semuanya akan berjalan baik atau sebaliknya?" Jawaban Murati singkat dan dingin. "Arah yang diambil sangat salah."
Ilya Sutskever, salah satu pendiri sekaligus mantan Kepala Ilmuwan OpenAI, membenarkan di bawah sumpah bahwa ia pernah menilai Altman memiliki "pola kebohongan yang terus-menerus, meremehkan eksekutifnya, dan memicu perselisihan antar mereka." Satu kata jawabannya: "Ya."
Altman dan OpenAI membantah keras seluruh narasi ini. Altman sendiri bersaksi bahwa Musk bukan hanya pernah mendukung gagasan OpenAI bertransisi menjadi entitas komersil, tapi juga sempat bersaing untuk mengendalikannya sebelum akhirnya hengkang pada 2018 setelah rekan pendiri lain menolak memberinya kendali penuh. Versi ini, menurut pengacara OpenAI William Savitt, dibenarkan juri: mereka memutuskan Musk berbohong soal asal-usul perusahaan.
Di luar ruang sidang, kubu OpenAI membeberkan pesan Musk ke Presiden OpenAI Greg Brockman: "Pada akhir minggu ini, kamu dan Sam akan menjadi orang yang paling dibenci di Amerika." Ancaman yang, entah kebetulan atau tidak, justru berbalik menjadi senjata narasi bagi pihak lawan.
Musk mengajukan gugatan ini dengan klaim bahwa OpenAI melanggar perjanjian pendirian ketika bertransformasi dari organisasi nirlaba menjadi perusahaan berorientasi laba. Ia salah satu pendiri dan penyumbang awal sebesar 38 juta dollar AS. Juri menyimpulkan gugatan itu kedaluwarsa, dan memilih tidak masuk ke substansinya sama sekali. Cukup untuk menutup pintu, setidaknya di tahap ini.
Beberapa jam setelah putusan, Musk menyerang di media sosial, menyebut hakim sebagai aktivis yang menggunakan juri sebagai kedok. Postingan itu kemudian dihapus. Dalam unggahan lain, ia bersumpah banding. Carl Tobias, profesor hukum University of Richmond, skeptis soal prospek itu. Pengadilan banding, katanya, sangat kecil kemungkinannya membatalkan keputusan yang sangat spesifik terhadap fakta dari juri.
Bagi investor dan pelaku industri AI, kemenangan hukum OpenAI memang melegakan. Tapi kesaksian yang terungkap selama tiga minggu itu adalah bab yang tidak bisa ditutup begitu saja dengan palu hakim. Pertanyaannya, berapa lama reputasi Altman mampu menanggung beban cerita yang sudah terlanjur beredar?