SELASA, 29 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Musk, Cook, dan Drama Selfie di Beijing: Di Balik...

Bisnis

Musk, Cook, dan Drama Selfie di Beijing: Di Balik KTT AS-China

Di tengah pertemuan diplomatik paling high-stakes tahun ini, Elon Musk justru mencuri layar dengan ekspresi wajah ajaib dan kehadiran sang putra berbaju sutra Tiongkok.

Elon Musk Pasang Muka Aneh Saat Selfie dengan Bos Xiaomi dan Apple

Bayangkan kamu eksekutif senior, hadir di Great Hall of the People untuk agenda kenegaraan paling bergengsi tahun ini, lalu tiba-tiba rekan delegasimu berputar-putar merekam interior gedung layaknya turis di Forbidden City. Itulah Elon Musk di Beijing, Rabu (13/5/2026). Internet tidak melewatkan satu detik pun.

Musk hadir sebagai bagian dari rombongan 17 eksekutif papan atas Amerika Serikat yang dibawa Presiden Donald Trump dalam kunjungan kenegaraan dua hari ke Beijing untuk menemui Presiden Xi Jinping. Nama-nama yang ikut tidak main-main: Tim Cook dari Apple, Jensen Huang dari Nvidia, plus sederet CEO konglomerat AS lainnya. Trump menyebut mereka "orang-orang brilian yang membantu membawa Tiongkok ke tingkat lebih tinggi."

Tapi narasi yang berhasil mendominasi media sosial bukan soal kesepakatan dagang atau lobi tarif. Yang viral justru ekspresi wajah Musk saat sesi foto pada jamuan makan malam kenegaraan. Dalam rekaman yang beredar, pendiri Tesla itu terlihat membuat serangkaian muka kocak saat berswafoto bersama CEO Xiaomi Lei Jun dan, yang paling disorot, bersama Tim Cook. Cook berdiri di belakang Musk, tersenyum rapi ke kamera. Musk? Menyeringai sambil mengacungkan dua jempol. Bukan main.

Satu hal lagi yang langsung jadi perbincangan: kehadiran X Æ A-12, putra Musk, di tengah protokol diplomatik paling ketat di dunia. Bocah itu muncul mengenakan rompi sutra tradisional Tiongkok sembari menjinjing tas berbentuk naga, tampil kontras di antara para pemimpin dunia berjas gelap. Ketika ditanya awak media soal si kecil, Musk menjawab singkat bahwa anaknya sedang belajar Mandarin. Jawaban yang, agaknya, cukup untuk menutup semua pertanyaan lanjutan.

Bagi Tesla, kunjungan ini punya substansi jauh lebih berat dari sekadar konten viral. Tiongkok tetap pasar dan basis manufaktur paling vital bagi perusahaan itu, sementara fluktuasi hubungan dagang Washington-Beijing pasca-perang tarif belum sepenuhnya reda. Kehadiran Musk dalam delegasi resmi kepresidenan bukan sekadar simbolik. Ini langkah kalkulatif untuk menjaga jalur komunikasi tetap terbuka.

Ada juga dimensi politis yang patut dicermati, kalau data ini bisa dipercaya sebagai sinyal rekonsiliasi. Hubungan Musk dan Trump sempat memanas setelah Musk mengklaim Trump masuk dalam berkas Epstein yang kala itu masih disegel, memantik kontroversi besar di dalam negeri AS. Musk memang menggelontorkan sekitar 300 juta dolar AS untuk kampanye Trump di 2024 dan sempat menjabat kepala Departemen Efisiensi Pemerintah sebelum akhirnya hengkang. Kembalinya ia dalam agenda resmi kepresidenan di Beijing dibaca banyak pihak sebagai sinyal rekonsiliasi yang sudah tuntas.

Apakah semua drama ringan ini mengaburkan agenda berat di baliknya? Bisa jadi. Kemampuan Musk mendominasi narasi media bahkan di acara paling protokoler di dunia, entah kebetulan atau tidak, adalah keahlian tersendiri yang tidak semua eksekutif miliki.