JUMAT, 16 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Musim Dividen Juni 2026: Tiga Emiten Tebar Yield d...

Finansial

Musim Dividen Juni 2026: Tiga Emiten Tebar Yield di Atas 8%

Pekan pertama Juni 2026 dibanjiri cum date dari lebih 30 emiten. INTP, MAHA, dan NRCA memimpin dengan dividend yield di atas 8%, meski kondisi fundamental masing-masing berbeda jauh.

Metland bagi dividen Rp74,25 miliar, siap luncurkan hotel di Tomohon

Pekan pertama Juni 2026 praktis jadi pesta bagi pemburu dividen. Lebih dari 30 emiten tercatat melewati cum date antara 2 hingga 5 Juni, dan setidaknya tiga di antaranya menawarkan dividend yield yang cukup bikin mata melek, eh, maksudnya, cukup untuk bikin portofolio berdenyut lebih kencang, melampaui angka 8%.

Paling mencolok? PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP). Industri semen sudah lama dihajar oversupply dan tekanan harga, tapi INTP justru membukukan laba bersih melesat 12% secara tahunan untuk tahun buku 2025. Manajemen memutuskan membagikan 68,3% dari laba itu sebagai dividen, setara Rp468 per lembar atau total sekitar Rp1,5 triliun, naik 80,7% dari tahun sebelumnya. Harga sahamnya yang sudah tergerus sekitar 11% dalam setahun ke level Rp4.990 per lembar justru mendongkrak indikasi yield-nya ke 9,4%. Cum date-nya jatuh pada 3 Juni 2026.

Angka 9,4% bukan angka sepele. Rata-rata yield pasar, menurut Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su, berkisar 3% hingga 5%. INTP hampir dua kali lipatnya.

Dua kandidat lain datang dari ceruk yang berbeda. PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA), anak usaha PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) di lini konstruksi, mencetak laba bersih meroket 115,1% sepanjang 2025. Dividen pun ikut terbang 81,8% menjadi Rp40 per lembar. Yang agak langka: harga saham NRCA sudah naik 45,3% dalam setahun ke level Rp500, tapi yield-nya masih bertengger di 8%. Artinya kenaikan dividennya memang masif.

Cum date NRCA berbarengan dengan PT Maha Properti Indonesia Tbk (MAHA): sama-sama 4 Juni 2026. Tapi kisah MAHA beda tipis. Laba bersih emiten properti ini amblas sekitar 18,3% di 2025. Perseroan tetap konsisten membagikan dividen Rp12 per lembar, angka yang tidak bergeser sejak debutnya di pasar modal pada 2023. Koreksi harga saham sekitar 12,4% ke level Rp148 mendorong yield-nya ke kisaran 8,1%. Konsistensinya patut diakui, tapi tren laba yang melemah adalah sinyal yang tidak bisa begitu saja diabaikan.

Selain tiga nama itu, sejumlah emiten lain juga meramaikan pekan yang sama dengan yield cukup layak diperhitungkan. PT Sarana Menara Nusantara Tbk (STAA) membagikan Rp75 per saham dengan yield 7,4% dan cum date paling awal: 2 Juni. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dan PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) masing-masing menawarkan yield 6,6%, dengan dividen Rp125,61 dan Rp80 per lembar, keduanya cum date 4 Juni.

Masih di tanggal 2 Juni, ada deretan emiten lintas sektor yang layak dicatat: PT Jasa Marga Tbk (JSMR) dengan dividen Rp156,23 per saham, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) Rp180 per saham, PT Indika Energy Tbk (INDY) sebesar Rp10,25 per saham, hingga PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TOWR) dengan Rp6,89 per saham. Sebagian besar pembayaran dijadwalkan antara 11 hingga 19 Juni 2026.

Sebetulnya musim ini sudah bergulir sejak akhir Mei. PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) melewati cum date dengan dividen Rp103,3 per saham pada 26 Mei, disusul PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) Rp56,3 per saham di tanggal yang sama. Pekan pertama Juni cuma puncaknya.

Satu peringatan dari analis yang tidak boleh terlewat: yield tinggi bukan lampu hijau tanpa syarat. Harry Su mengingatkan soal risiko dividend trap, kondisi ketika yield terlihat menggoda tapi fundamental bisnis justru sedang melemah, sehingga harga saham bisa amblas setelah ex dividen dan keuntungan dari dividen habis tergerus koreksi. Kasus MAHA, dengan tren laba yang terus menipis, bisa jadi cermin retak yang layak dipelototi lebih dalam sebelum investor memutuskan masuk.