Narendra Modi terbang ke Abu Dhabi pada Jumat, 15 Mei, memulai lawatan tujuh hari yang mencakup Uni Emirat Arab dan empat negara Eropa. Bukan kunjungan seremonial biasa. Di balik agenda diplomatik yang tertata rapi itu, ada tekanan geopolitik yang kian berat untuk ditanggung New Delhi sendirian.
Perang Iran telah mengubah peta Timur Tengah dengan cara yang paling tidak nyaman bagi India: memaksa New Delhi memilih saat India tidak mau memilih siapapun. Selama puluhan tahun, kebijakan luar negeri India berdiri di atas satu prinsip yang mereka sendiri sebut "realisme pragmatis", yakni membangun hubungan dengan semua kekuatan besar di kawasan tanpa harus terseret persaingan di antara mereka.
Prinsip itu kini sedang dihantam keras.
"Otonomi strategis bekerja paling efektif dalam tatanan dunia multipolar yang cair," kata Amitabh Mattoo, Dekan Sekolah Studi Internasional di Universitas Jawaharlal Nehru. "Situasinya jadi lebih sulit ketika kubu-kubu yang bersaing secara serentak menuntut loyalitas politik, kepatuhan terhadap sanksi, dan keberpihakan keamanan."
Mattoo juga tahu persis apa yang paling cepat dikorbankan jika tekanan mencapai puncaknya. Insting pertama New Delhi, menurut dia, selalu bermuara pada satu hal: stabilitas ekonomi dan keamanan energi. Tak ada pemerintahan India yang sanggup menanggung guncangan harga minyak yang berkepanjangan, gangguan pelayaran di Selat Hormuz, atau lonjakan inflasi domestik yang menggerus kepercayaan publik.
Selat Hormuz. Titik paling rawan. Lewat jalur sempit itu mengalir sebagian besar minyak mentah dan gas alam yang menggerakkan perekonomian India. Lebih dari sembilan juta warga India bekerja di kawasan Teluk, dan remitansi mereka bukan angka kecil dalam neraca ekonomi domestik. Gangguan sekecil apa pun akan langsung terasa: biaya impor melonjak, premi asuransi meroket, inflasi menggerus daya beli jutaan keluarga.
New Delhi merespons dengan dua langkah: diversifikasi pemasok energi dan pengerahan Angkatan Laut untuk menjaga jalur pelayaran komersial. Keduanya tidak murah. Cadangan minyak strategis India tidak dirancang untuk menghadapi konflik yang berlarut-larut, dan pemerintah tahu itu.
Pemerintah justru menaikkan harga BBM untuk pertama kalinya dalam empat tahun terakhir. Sinyal berat untuk dikirim ke publik, tapi agaknya tidak ada celah lain. Modi juga menyerukan penghematan nasional, meminta warga mengurangi pembelian emas dan perjalanan ke luar negeri, dua indikator konsumsi yang sensitif secara politik di India.
Tidak semua pihak melihat ini sebagai krisis diplomatik. T.S. Tirumurti, pensiunan diplomat yang pernah menjadi perwakilan pertama India untuk Otoritas Palestina, justru menilai perang Iran menjadi alasan tambahan bagi New Delhi untuk mempertahankan pendekatan multi-blok. "Bila kami menyimpang dari pendekatan multi-blok dan mencondongkan diri ke pihak tertentu, ruang strategis kami akan menyempit," tegasnya.
Gaddam Dharmendra, mantan Duta Besar India untuk Iran, memperkirakan India kemungkinan akan melakukan penyesuaian dalam strategi diplomatik, bukan menanggalkannya sepenuhnya. Ia melihat Amerika Serikat, yang kini menjadi salah satu eksportir besar minyak dan LNG dunia, sebagai variabel baru yang bisa mengisi sebagian celah pasokan energi India. "Situasi ini bisa dilihat sebagai kondisi yang sama-sama menguntungkan," ujarnya.
Pertanyaannya, berapa lama keseimbangan itu bisa dipertahankan?
Shanthie Mariet D'Souza dari Mantraya, forum riset independen, menarik garis lebih jelas. Bukan konsep otonomi strategisnya yang goyah, melainkan kemampuan India menjaga keseimbangan hubungan dengan negara-negara yang sedang aktif bersitegang. "Bahkan nyaris mustahil dipertahankan jika perang terus berlarut," kata Shanthie.
Yang paling rumit bukan soal keberpihakan formal. Kalau data kemitraan ini bisa bicara jujur, akumulasi keputusan-keputusan kecil yang, dilihat bersama-sama, sudah mulai menyiratkan ke mana New Delhi condong. Kemitraan teknologi dan ekonomi terbesar India ada bersama Amerika Serikat, Israel, dan negara-negara utama Teluk. Bukan rahasia.
Lawatan Modi ke UAE dan Eropa pekan ini, kata Shanthie, kemungkinan mencerminkan upaya mediasi yang India harapkan bisa mengakhiri konflik lebih cepat. Skenario terbaik bagi New Delhi memang cuma satu: perang kelar sebelum India dipaksa memilih.