Akun Instagram @obamawhitehouse yang sudah tidak aktif sejak 20 Januari 2017 tiba-tiba mengunggah gambar propaganda bertuliskan "Gedung Putih berada di bawah kendali kaum Syiah." Bukan ulah admin lama, bukan serangan ransomware canggih. Pelakunya hanya bermodal VPN dan kalimat sopan kepada chatbot.
Itulah inti dari insiden keamanan yang menghebohkan platform Meta sepanjang akhir Mei hingga awal Juni 2026. Meta AI Support Assistant, fitur dukungan berbasis kecerdasan buatan yang baru diluncurkan pada Maret lalu, ternyata bisa dimanipulasi untuk mengambil alih akun Instagram orang lain tanpa harus menembus sistem Two-Factor Authentication (2FA) sama sekali. Meta menambal celah ini pada Senin (1/6/2026), tapi kerusakannya sudah telanjur terjadi.
Selain akun @obamawhitehouse, akun Instagram Chief Master Sergeant Angkatan Luar Angkasa AS John Bentivegna dan akun merek kosmetik Sephora juga menjadi korban. Peneliti keamanan siber Jane Manchun Wong mengaku ikut terdampak. "Password akun saya diubah tanpa sepengetahuan saya, dan saya berkali-kali dipaksa logout dari aplikasi IG iOS," tulis Wong di X, menambahkan bahwa ia menerima permintaan reset password berkali-kali sepanjang hari.
Cara kerjanya? Mengkhawatirkan justru karena betapa sederhananya. Hacker pertama-tama menggunakan VPN untuk memalsukan lokasi agar sesuai dengan perkiraan lokasi akun target, sehingga sistem perlindungan otomatis Instagram tidak terpicu. Setelah itu, pelaku membuka percakapan dengan Meta AI Support Assistant dan meminta bot tersebut menambahkan alamat email baru ke akun yang disasar. Chatbot kemudian mengirimkan kode verifikasi ke email yang disodorkan hacker, bukan ke pemilik asli. Kode itu dikembalikan ke chatbot, tombol "Reset Password" muncul, dan akun korban resmi berpindah tangan. Selesai.
Tidak ada brute force. Tidak ada phishing. Tanpa bypass 2FA.
Akar masalahnya ada di keputusan desain Meta sendiri. Ketika meluncurkan fitur ini, Meta mengonfigurasi AI Support Assistant dengan kewenangan yang terlalu luas, termasuk kemampuan mereset kata sandi dan mengubah email akun, tanpa mekanisme verifikasi identitas yang cukup ketat. Meta sempat mengeklaim bahwa sistem ini mengenali pengguna dari perangkat dan lokasi yang familier, tapi klaim itu runtuh begitu VPN murah bisa mengakalinya. Dalam beberapa kasus, chatbot memang meminta foto selfie sebagai verifikasi tambahan, agaknya berhasil dilewati juga menggunakan foto buatan AI.
Para peneliti keamanan menyebut teknik ini sebagai prompt injection, metode manipulasi di mana penyerang menginstruksikan AI agar melakukan tindakan yang seharusnya di luar batas kewenangannya. Bukan celah baru di dunia riset keamanan AI, tapi ini mungkin salah satu kasus paling nyata di mana teknik tersebut dipakai untuk merugikan pengguna biasa dalam skala yang tidak main-main.
Pertanyaannya: berapa lama tren eksploitasi semacam ini akan terus menemukan korban baru?
Yang memperparah situasi, korban yang kehilangan akses tidak punya jalur pemulihan ke staf manusia. Satu-satunya opsi yang tersedia adalah berbicara dengan Meta AI, chatbot yang sama yang menjadi pintu masuk eksploitasi itu sendiri. Ibarat pedang bermata dua: fitur yang dirancang untuk membantu justru menjadi senjata yang melumpuhkan penggunanya. Akun-akun yang berhasil dibajak langsung diperjualbelikan di kanal-kanal Telegram gelap yang menawarkan jasa account takeover. Sindikat di kanal tersebut, kalau data ini bisa dipercaya, sudah mengetahui celah ini sejak Maret 2026, tepat saat fitur itu diluncurkan.
Juru bicara Meta Andy Stone mengonfirmasi celah sudah ditutup. "Masalah ini telah diatasi dan kami sedang mengamankan akun-akun yang terdampak," kata Stone melalui akun X-nya. Berapa total akun yang menjadi korban sebelum patch diterapkan? Meta tutup mulut.
Insiden ini mestinya jadi pengingat keras bagi siapa pun yang membangun fitur AI dengan akses tinggi ke data pengguna: kewenangan besar tanpa verifikasi kuat adalah kombinasi berbahaya. Sudah berapa banyak akun yang berpindah tangan sebelum Meta repot-repot menambalnya? Angka itu, entah kebetulan atau tidak, tampaknya tidak akan pernah kita ketahui.