SENIN, 12 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  MITI Kebut Eksplorasi Silika di Ketapang, Saham Su...

Finansial

MITI Kebut Eksplorasi Silika di Ketapang, Saham Sudah Lari 28-30% Sebulan

PT Mitra Investindo Tbk (MITI) melaporkan kegiatan eksplorasi pasir silika di tiga anak usaha di Ketapang, Kalimantan Barat pada Q3 2026, di tengah tekanan kinerja keuangan semester pertama.

MITI Memperluas Bisnis Pasir Silika dan Logistik

Tiga anak usaha PT Mitra Investindo Tbk (MITI) serempak menjalankan eksplorasi pasir silika di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat sepanjang kuartal III 2026. Pasar sudah lebih dulu menyimpulkan sendiri: saham MITI melesat 28-30% dalam sebulan terakhir, jauh sebelum ada angka produksi yang bisa dipertanggungjawabkan.

Corporate Secretary MITI Sugeng Wahono, dalam keterangan tertulis Senin (12/10/2026), menyebut proses perizinan PPKH pada triwulan III 2026 masih melanjutkan perolehan persetujuan RKAB Eksplorasi 2026. Roda berputar, tapi izin masih bersyarat.

PT Kendawangan Berkah Kersik (KBK) membukukan pengeluaran eksplorasi sekitar Rp410 juta di Q3, mencakup biaya konsultan, biaya personal, dan operasional kantor. Seluruh area IUP KBK berlokasi di Desa Natai Kuini, Kecamatan Kendawangan, dengan status Area Penggunaan Lain (APL). PT Danau Bantar Kuarsa (DBK) menghabiskan Rp335 juta lewat metode pemetaan topografi berbasis UAV untuk lahan seluas 4.888 hektare yang mencakup tiga desa di kecamatan yang sama. Anak usaha ketiga, PT Kendawangan Prima Silika (KPS), turut menjalankan program eksplorasi di periode yang sama.

Di luar ketiganya, ada satu aksi korporasi yang bikin sebagian pelaku pasar mengernyit. Pada 30 September 2026, MITI menandatangani nota kesepahaman dengan PT CNEC Engineering Indonesia, mencakup penjajakan pengembangan konsesi tambang pasir silika, studi kelayakan, layanan rekayasa, hingga peluang pendanaan. MoU, bukan kontrak. Belum ada jaminan proyek ini menyentuh fase produksi, apalagi menghasilkan pendapatan. Agaknya narasi lebih cepat dihargai ketimbang substansi, setidaknya untuk saat ini.

MITI juga melirik hilir: rencana pabrik wood pallet lewat perusahaan patungan. Bisnis inti pelayaran dan logistik tetap berjalan melalui PT Wasesa Line dan PT Karya Abdi Utama, meski segmen ini sedang tertekan.

Nah, kinerja keuangan semester I 2026 bicara nada yang berbeda. Laporan yang dipublikasikan ke BEI pada 28 Agustus 2026 menunjukkan pendapatan tergerus 13,1% dibanding periode sama tahun lalu. Laba bersih yang dapat diatribusikan ke pemilik induk amblas 22,6%. Diversifikasi dikejar kencang, tapi mesin utama belum pulih.

Rp346 per saham. Itu posisi MITI pada sesi pertama Senin (12/10), turun 2,26% atau minus 8 poin di hari itu. Koreksi harian yang wajar setelah reli sebulan yang cukup agresif, dan bisa jadi sebagian investor mulai kalkulasi ulang antara story eksplorasi dengan angka laporan keuangan yang belum mendukung.

Pertanyaan yang relevan buat pemegang saham MITI: seberapa cepat eksplorasi Ketapang bisa berubah jadi pendapatan nyata, dan apakah kas perusahaan cukup sabar menunggu izin-izin bersyarat itu tuntas satu per satu?