SELASA, 29 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Mirae Asset: IHSG Anjlok 2,42%, Pasar Masih Dibaya...

Bisnis

Mirae Asset: IHSG Anjlok 2,42%, Pasar Masih Dibayangi Twin Deficit dan Suku Bunga The Fed

IHSG anjlok 2,42 persen ke 5.679 di sesi I hari ini. Mirae Asset menyoroti kombinasi tekanan eksternal dari kebijakan moneter AS dan risiko domestik yang belum terselesaikan, sambil merekomendasikan sektor poultry sebagai peluang di tengah volatilitas.

Stockbit helping build public participation in capital market - ANTARA News

IHSG dihajar cukup dalam di awal sesi Selasa ini. Indeks melorot 2,42 persen ke level 5.679,75 dari posisi sebelumnya 5.820,79, koreksi yang agaknya mencerminkan betapa rapuhnya kepercayaan pelaku pasar saat ini meski gejolak geopolitik di Timur Tengah mulai mereda.

Dalam acara Media Day bertajuk "Fear vs Fundamentals: Where Is Indonesia Really Headed?" yang digelar hari ini di Jakarta, PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia memotret kondisi pasar dengan cukup lugas. Kesimpulannya: meredanya tensi geopolitik memang memberi sedikit napas, tapi jauh dari cukup untuk mendorong pemulihan yang berarti.

Ancaman utama datang dari Washington. Federal Funds Rate saat ini bertengger di 3,75 persen. Mirae Asset memproyeksikan The Fed masih akan menaikkan dua kali lagi, masing-masing 25 basis poin pada September dan Desember, sehingga FFR berpotensi menyentuh 4,25 persen di penghujung 2026. Kondisi moneter global yang ketat ini membuat likuiditas sulit mengalir deras ke pasar berkembang seperti Indonesia. "Meredanya risiko geopolitik memberikan sentimen positif bagi pasar. Namun, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed hingga akhir tahun membuat kondisi moneter global masih cenderung ketat sehingga volatilitas pasar diperkirakan tetap tinggi," kata Rully Arya Wisnubroto, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi global pun sudah direvisi turun menjadi 3,1 persen dari estimasi sebelumnya 3,3 persen. Indonesia sendiri diperkirakan tumbuh sekitar 5,0 persen tahun ini, sedikit meleset dari proyeksi awal 5,1 persen. Bukan angka yang buruk, tapi revisi ke bawah selalu meninggalkan pertanyaan.

Yang lebih mengkhawatirkan justru datang dari dalam negeri. Rully menyoroti potensi twin deficit sebagai risiko yang kian menguat setelah neraca transaksi berjalan dan neraca finansial Indonesia sama-sama melemah pada kuartal I 2026. Tekanan pada rupiah dan kondisi fiskal yang perlu terus dicermati melengkapi gambaran itu, menciptakan kerentanan yang bisa memperparah sentimen bila tidak direspons dengan kebijakan yang meyakinkan. "Ke depan, pemulihan pasar Indonesia akan sangat ditentukan oleh kepercayaan investor terhadap kebijakan domestik. Karena itu, investor perlu tetap berfokus pada fundamental dan lebih selektif dalam menentukan strategi investasinya," tegas Rully.

Satu sudut yang justru menarik: sektor poultry. Senior Research Analyst Andreas Kristo Saragih menunjuk konsumsi daging ayam Indonesia yang baru mencapai 8,6 kilogram per kapita, jauh tertinggal dari Malaysia di 32,9 kilogram dan Vietnam di 16,7 kilogram per kapita. Ruang tumbuh yang besar itu, bak gayung bersambut, didukung program Makan Bergizi Gratis yang mendongkrak permintaan, ditambah penurunan kuota impor grand parent stock dan implementasi program culling yang membuat sisi pasokan lebih terkendali. "Kami melihat sektor poultry memasuki fase yang lebih menarik dibandingkan beberapa tahun terakhir. Dengan pasokan yang lebih terkendali dan permintaan yang terus bertumbuh, profitabilitas industri berpotensi meningkat sehingga membuka peluang investasi yang menarik bagi investor," ujar Andreas.

Soal strategi, Head of Fund Services Francisca Gerungan mendorong investor untuk tidak menaruh semua telur dalam satu keranjang. Diversifikasi portofolio lintas instrumen, dengan mempertimbangkan profil risiko dan kebutuhan likuiditas, dinilai krusial di kondisi pasar seperti sekarang. Sejalan dengan itu, Mirae Asset memperluas pilihan produk di platform M-FUND dengan menghadirkan Syailendra Sharia Fixed Income Fund (SSFIF) Kelas A, reksa dana syariah pendapatan tetap yang berinvestasi pada sukuk negara dan korporasi, cocok untuk investor dengan profil moderat-konservatif.

Pertanyaannya, apakah koreksi hari ini sekadar noise jangka pendek, atau sinyal bahwa pasar sedang menghitung ulang valuasi dari dua arah sekaligus?