Harga minyak dunia dihajar dua sentimen sekaligus pekan ini: perang Iran yang tak kunjung selesai, dan sinyal mengejutkan dari Washington bahwa China siap jadi pembeli grosir minyak Amerika Serikat.
Pada penutupan perdagangan Jumat (15/5/2026), minyak mentah Brent bertengger di US$109,26 per barel, naik 3,35% dalam sehari. WTI melompat lebih agresif, 4,2%, ke US$105,42 per barel. Angka mingguan yang lebih mencengangkan: Brent melesat 7,87% dan WTI terbang 10,48% hanya dalam lima hari. Terakhir kali pasar energi global bergerak seliar ini, dunia sedang dibekap pandemi.
Akar dari semua ini ada di Selat Hormuz. Blokade yang dilancarkan Iran sejak akhir Februari, sebagai respons balasan atas serangan militer AS dan Israel, telah memotong sekitar 20% pasokan minyak dunia dari jalur normalnya. Goldman Sachs memperkirakan produksi minyak di Teluk Persia sudah terpangkas sekitar 14,5 juta barel per hari akibat gangguan ini, sementara stok minyak mentah global sudah terkuras hampir 500 juta barel dan berpotensi mencapai 1 miliar barel pada Juni.
International Energy Agency (IEA) menyebut persediaan minyak global sudah turun sekitar 4 juta barel per hari pada Maret dan April saja. Pasar, kata IEA, masih akan sangat kekurangan pasokan hingga Oktober, bahkan jika konflik berakhir bulan depan. Angka yang, jujur saja, cukup bikin ngeri.
Di sisi geopolitik, negosiasi damai AS-Iran kembali mentok. Trump menyebut respons Iran terhadap proposal damai terakhir sebagai "sampah" dan secara blak-blakan bilang kesabarannya sudah habis. "Saya tidak akan lebih sabar lagi. Mereka harus membuat kesepakatan," tegasnya dalam wawancara Kamis malam. Pasar terbaca jelas: selama Hormuz masih tersumbat, premi risiko geopolitik tidak akan kemana-mana.
Namun ada satu variabel baru yang menggeser narasi pasar. China. Trump mengklaim Beijing telah setuju membeli minyak mentah AS dalam skala besar. "Mereka telah sepakat bahwa mereka ingin membeli minyak dari Amerika Serikat, mereka akan pergi ke Texas, kita akan mulai mengirim kapal-kapal China ke Texas, Louisiana, dan Alaska," kata Trump kepada Fox News seusai pertemuan dengan Presiden Xi Jinping. Pernyataan itu langsung mendorong reli tambahan di sesi perdagangan Jumat.
Logika di balik kesepakatan ini bak gayung bersambut. China adalah importir minyak terbesar di dunia; AS produsen terbesarnya. Selama ini Beijing bergantung berat pada pasokan Timur Tengah yang kini jalurnya tersumbat di Hormuz. Menteri Energi AS Chris Wright menyebutnya sebagai "perdagangan energi yang alami." Ia menduga pertumbuhan impor minyak China dari AS akan terlihat dalam waktu dekat, dimulai dari kawasan Pantai Teluk sebelum merambah ke Alaska.
Catatan pentingnya: Beijing belum memberikan konfirmasi resmi atas kesepakatan tersebut. Kementerian Luar Negeri China hanya menyampaikan bahwa melanjutkan konflik di Timur Tengah "tidak ada gunanya" dan menyerukan negosiasi. Bukan pernyataan yang secara eksplisit membenarkan klaim Trump. Setidaknya itu yang bisa dibaca dari pernyataan resmi Beijing. Pasar sudah terlanjur berpesta.
Faktor lain yang ikut menopang harga: Rusia. Pertemuan damai Rusia-Ukraina kembali tanpa hasil, dan serangan drone Ukraina terus menyasar fasilitas energi Rusia. Dalam sepuluh bulan terakhir, sedikitnya 30 kilang Rusia jadi sasaran. Kemampuan ekspor minyak Rusia pun tergerus, menambah keketatan pasokan global yang sudah compang-camping.
Di sisi domestik AS, stok energi juga tidak dalam posisi nyaman. Persediaan minyak mentah berada 0,3% di bawah rata-rata lima tahun, bensin 4,3% lebih tipis, dan distilat 9,4% di bawah normal. OPEC memang berencana menaikkan kuota produksi, tapi rencana itu belum banyak membantu selama produsen Timur Tengah menghadapi gangguan akibat perang.
Dampak struktural yang lebih panjang juga mulai terlihat. Negara-negara Teluk Arab kabarnya sudah mulai menyusun jaringan pipa baru agar tidak lagi bergantung pada Selat Hormuz. UEA mempercepat proyek pipa Barat-Timur sebagai rute alternatif. Wright mengomentari aksi Iran memblokade selat itu dengan kalimat yang cukup telak: "Ini adalah kartu yang hanya bisa Anda mainkan sekali."
Pertanyaannya, berapa lama tren ini bertahan? Bagi investor yang megang saham-saham energi atau reksa dana komoditas, pekan ini agaknya menjadi pengingat keras bahwa minyak bisa bergerak cepat dan tidak selalu ke arah yang diprediksi konsensus. Selama Hormuz belum buka, angka di pompa bensin pun ikut bergerak.