Kapal tanker Sierra berlabuh di Pelabuhan Balikpapan pada 29 Juni 2026, membawa hampir 770.000 barel minyak mentah dari Pelabuhan Kozmino, Rusia, senilai sekitar 75 juta dolar AS atau setara Rp1,2 triliun. Data kepabeanan dari Big Trade Data yang dikutip Bloomberg itu memunculkan satu pertanyaan: apakah ini pengiriman perdana minyak Rusia ke Indonesia setelah kesepakatan pasokan yang dicapai Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Vladimir Putin pada April 2026?
Jawaban resminya: belum tentu. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Yuliot Tanjung mengaku pemerintah masih perlu memverifikasi asal dan volume minyak yang masuk. Bukan formalitas birokrasi biasa, agaknya, mengingat pengadaan dilakukan dalam skema blending, yakni minyak campuran dari sejumlah pemasok yang pemerintah sebut sebagai Indonesia blend atau Nusantara blending. "Dari mana asalnya, apakah itu ada yang dari Rusia, berapa jumlahnya, kami cek dulu," kata Yuliot saat ditemui di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (16/7/2026).
Skema blending inilah yang membuat traceability minyak Rusia jadi abu-abu. Ketika minyak mentah dari sejumlah pemasok dicampur sebelum diterima, menetapkan berapa porsi yang benar-benar berasal dari Rusia butuh verifikasi teknis tersendiri. Rumit. Dan sampai verifikasi itu selesai, tidak ada angka yang bisa dikunci.
Meski soal volume masih dicocokkan, peruntukan stok tersebut sudah dikunci sejak awal. Yuliot menegaskan minyak yang diterima tidak akan langsung masuk ke kilang untuk diolah menjadi BBM. "Belum, belum diolah. Jadi penyangga cadangan energi nasional," katanya. Soal lokasi penyimpanan, pemerintah masih mengecek ketersediaan fasilitas storage yang akan digunakan.
Mekanisme impornya sendiri sudah punya pijakan hukum. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya menyebut Presiden Prabowo telah menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 2026 yang memberi kewenangan kepada badan usaha dan Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) untuk melakukan impor. Lemigas, yang berstatus Badan Layanan Umum di bawah Kementerian ESDM, menjadi kanal resmi kerja sama pengadaan minyak antarnegara ini. "Kontrak sudah dilakukan oleh Lemigas, BLU daripada Kementerian ESDM," kata Bahlil akhir Juni lalu.
150 juta barel. Itu target total impor minyak dari Rusia yang sudah dicanangkan pemerintah. Kalau laporan Bloomberg soal 770.000 barel di Balikpapan itu benar dan memang bagian dari skema ini, baru sekitar 0,5 persen dari target yang terpenuhi. Perjalanan masih sangat panjang, dan baru konfirmasi resminya saja yang belum didapat.