Sepekan terakhir, pasar komoditas global bergerak ke dua arah yang berlawanan. Perbedaannya cukup mencolok.
Minyak Brent melonjak hingga 16% dalam tujuh hari perdagangan terakhir, menyentuh USD 88,1 per barel, angka yang belum terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Pemicunya bukan satu faktor tunggal, melainkan kombinasi yang agaknya sudah cukup untuk membuat para trader energi kehilangan selera tidur: eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan produsen minyak utama Timur Tengah, ancaman terhadap jalur pelayaran vital, dan yang paling mengejutkan pasar, keputusan sejumlah negara anggota OPEC+ untuk memangkas produksi secara unilateral di luar kesepakatan bersama.
Pemangkasan itu terjadi persis ketika pemulihan permintaan mulai terlihat di beberapa ekonomi besar, terutama dari sektor industri berat dan transportasi. Bak gayung bersambut dengan risiko pasokan yang tinggi, hasilnya adalah tekanan harga yang jauh lebih keras dari yang diantisipasi konsensus. WTI ikut terseret naik, mengikuti Brent ke level yang mulai menimbulkan pertanyaan soal dampak lanjutan terhadap inflasi global.
Cerita berbeda datang dari pasar logam mulia. Emas stabil di USD 4.018 per ons troi, bertahan di atas ambang psikologis $4.000 yang kini tampaknya sudah menjadi support baru. Level ini mencerminkan betapa tingginya kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi global yang masih dibayangi inflasi persisten dan ketidakpastian arah kebijakan moneter bank sentral.
Permintaan fisik dari bank sentral dan investor ritel, khususnya di pasar Asia, tetap solid. Entah kebetulan atau tidak, momentum kenaikan emas ini bersamaan dengan memanasnya situasi geopolitik yang sama yang mendongkrak harga minyak. Ketika risiko sistemik naik, logam kuning selalu jadi tempat pertama yang dicari. Prospek pelonggaran moneter yang masih mengambang di beberapa negara maju justru menambah daya tarik emas sebagai lindung nilai. Pertanyaannya, berapa lama support $4.000 ini bertahan jika geopolitik mereda?
Sementara dua komoditas di atas pesta, CPO dan nikel justru berjuang keras melawan tekanan dari arah berlawanan: pasokan berlimpah, permintaan lesu. Harga CPO masih tergerus oleh tingginya stok di Indonesia dan Malaysia, dua produsen terbesar dunia, yang outputnya terus melimpah sementara permintaan dari importir-importir besar jalan di tempat. Persaingan dengan minyak nabati substitusi memperparah posisi CPO di pasar global.
Nikel bernasib serupa, bahkan bisa dibilang lebih berat. Ekspansi kapasitas produksi Indonesia yang masif dalam beberapa tahun terakhir kini menghasilkan pasokan yang membanjiri pasar global, tepat di saat permintaan dari sektor kendaraan listrik menunjukkan tanda-tanda perlambatan adopsi di sejumlah pasar utama. Rantai pasok EV global yang tengah menyesuaikan diri turut memangkas kebutuhan akan nikel. Harganya pun amblas.
Bagi investor yang memegang eksposur ke komoditas, peta risiko hari ini cukup jelas terbaca: energi dan safe-haven logam mulia diuntungkan oleh ketidakpastian geopolitik, sementara komoditas berbasis permintaan industri masih harus bersabar. Kalau data ini bisa dipercaya sebagai sinyal tren, pemulihan untuk CPO dan nikel bisa jadi masih jauh dari tikungan.