Agustus 2026 terasa seperti bulan panen bagi jutaan pemain Minecraft. Mojang Studios tidak cukup dengan satu pembaruan: dalam rentang kurang dari dua minggu, dua versi berbeda meluncur berturut-turut untuk Bedrock Edition, membawa konten baru sekaligus perbaikan teknis yang sudah lama diminta komunitas.
Versi 1.26.40, yang mendarat lebih dulu pada 4 Agustus 2026, paling tebal muatannya. Pembaruan ini memperkenalkan dua fitur eksperimental yang langsung ramai diperbincangkan: biome Dappled Forest dengan pohon Poplar dan jamur rak yang memberi nuansa visual berbeda dari biome hutan standar, serta struktur Abandoned Camp, lokasi baru untuk dijarah dan dieksplorasi. Di luar konten baru, versi ini juga membereskan sejumlah quirk lama, termasuk perahu yang kini butuh lebih sedikit pukulan untuk hancur dan kereta tambang yang kembali berfungsi normal setelah sempat ngadat.
Dua pekan berselang, 17 Agustus 2026, versi 1.26.44.3 menyusul. Lebih bersifat housekeeping: perbaikan bug dan peningkatan stabilitas, khususnya untuk perangkat Android. Bukan update yang glamor. Tapi justru jenis pembaruan yang paling dirasakan dampaknya oleh pemain kasual yang kesal dengan crash atau lag tiba-tiba.
Angka di balik game ini memang bicara sendiri. Minecraft kini sudah terjual lebih dari 300 juta kopi secara global, dengan sekitar 170 juta pemain aktif bulanan pada 2026. Dengan basis pengguna sebesar itu, tiap bug sekecil apapun bisa menjatuhkan jutaan sesi bermain sekaligus.
Satu tambahan yang agaknya paling dinantikan komunitas: Bedrock Parties. Sistem party multiplayer bawaan ini terinspirasi dari mekanisme serupa di Fortnite maupun Apex Legends. Mojang tampaknya sadar bahwa selama ini salah satu hambatan terbesar bagi pemain baru bukan soal gameplay, melainkan kerumitan teknis ketika sekadar ingin main bareng teman. Proses yang dulu melibatkan konfigurasi IP server atau berlangganan Realms kini dipangkas jadi beberapa klik.
Bedrock Parties memungkinkan pemain membuat grup sementara yang menghubungkan beberapa akun dalam satu sesi, tanpa biaya tambahan. Ada obrolan suara bawaan dengan dukungan push-to-talk dan voice activation, sehingga pemain di konsol, yang selama ini bergantung Discord atau aplikasi eksternal lain, punya opsi lebih praktis. Yang lebih menarik, seluruh anggota party bisa berpindah world bersama-sama tanpa harus membubarkan grup dan membentuk ulang. Bagi komunitas yang rutin gonta-ganti world dalam satu sesi, ini cukup mengubah kebiasaan.
Pertanyaannya, apa bedanya dengan Realms? Cukup jelas, kalau dilihat lebih seksama. Realms tetap jadi pilihan untuk kelompok yang butuh server permanen, bisa diakses 24 jam tanpa ketergantungan pada satu host. Bedrock Parties lebih pas untuk sesi spontan tanpa biaya, dengan konsekuensi bahwa dunia hanya aktif selama host online. Dua solusi berbeda untuk dua kebutuhan yang berbeda pula.
Soal cross-play, Bedrock Edition tetap jadi keunggulan yang sulit disaingi. PC Windows, Xbox, PlayStation, Nintendo Switch, iOS, dan Android bisa bermain dalam satu dunia yang sama. Syaratnya cuma akun Microsoft dan versi game yang identik. Bukan main, untuk game yang lahir lebih dari 15 tahun lalu.
Fitur eksperimental seperti Dappled Forest dan Abandoned Camp masih perlu diaktifkan manual saat membuat dunia baru. Artinya pemain yang tidak mau ambil risiko ketidakstabilan bisa tetap main di world reguler tanpa gangguan. Pilihan yang bijak dari Mojang, entah kebetulan atau tidak, karena fitur dalam tahap beta memang idealnya tidak dipaksakan ke semua pengguna sekaligus.
Dua update dalam satu bulan, ditambah sistem Party yang memangkas kerumitan multiplayer. Pertanyaannya bukan lagi apakah Minecraft masih relevan. Pertanyaannya: seberapa jauh lagi Mojang akan mendorong batas game yang secara teknis sudah uzur, tapi secara komunitas masih terus mekar?