Tahun lalu, komunitas komputasi kuantum masih ramai berdebat soal klaim Microsoft pada chip Majorana pertama. Kini perusahaan itu kembali ke panggung dengan penerusnya, dan angka-angkanya sulit diabaikan.
Microsoft memperkenalkan Majorana 2 di konferensi pengembang Build di San Francisco, Selasa lalu. Chip kuantum terbaru ini membawa perubahan material yang cukup mendasar: superkonduktor aluminium diganti dengan timbal, sementara wilayah semikonduktor aktif kini menggunakan kombinasi indium arsenide dan indium arsenide antimonide. Hasilnya, menurut Chetan Nayak, technical fellow dan corporate VP quantum hardware Microsoft, adalah peningkatan kinerja yang cukup besar di hampir semua metrik.
Salah satu angka yang paling mencolok soal stabilitas. Qubit pada Majorana 1 hanya mampu bertahan kurang dari 12 milidetik sebelum kehilangan koherensi. Majorana 2 kini mencatat masa pakai rata-rata 20 detik, bahkan beberapa qubitnya diklaim bisa bertahan hingga satu menit. Microsoft menyebut ini setara 1.000 kali lebih andal dibanding pendahulunya. Mereka mengibaratkannya seperti perbedaan antara ponsel yang butuh dicharge setiap hari dengan ponsel yang cukup dicharge sekali setiap beberapa tahun. Angka yang tidak main-main.
Jumlah qubit juga bertambah, dari 8 menjadi 12. Tapi bagi Microsoft, angka qubit agaknya bukan metrik utama yang ingin mereka kejar, setidaknya untuk saat ini. Fokus mereka ada pada ketahanan, bukan kuantitas.
Pendekatan Microsoft sendiri memang berbeda dari Google maupun IBM. Perusahaan ini mengandalkan qubit topologis berbasis partikel Majorana, yaitu kuasipartikel yang namanya diambil dari fisikawan Italia Ettore Majorana. Teorinya: qubit jenis ini secara inheren lebih tahan terhadap kesalahan karena sifat fisikanya sendiri, bukan karena koreksi error yang ditempelkan dari luar. Kalau berhasil, ini bisa jadi keunggulan struktural yang susah dikejar kompetitor. Pertanyaannya, berapa lama sampai teori ini benar-benar terbukti di lapangan?
Dengan kemajuan itu, Microsoft kini memangkas target mereka setengahnya. "Berdasarkan kemajuan yang sangat cepat ini, kami mempercepat peta jalan menuju komputer kuantum yang dapat diskalakan dan praktis," kata Nayak. "Kami telah memangkas target waktu kami hingga setengahnya dan kini menargetkan pencapaian tersebut pada 2029." Bukan sekadar mesin yang bisa jalan, tapi, seperti diungkap Corporate VP Microsoft Quantum Zulfi Alam, mesin yang mampu menyelesaikan masalah-masalah yang bernilai secara komersial.
Satu hal yang juga diumumkan bersamaan adalah platform AI Discovery, yang diklaim digunakan dalam proses pengembangan Majorana 2. Platform ini dirancang untuk membantu peneliti dan insinyur membangun alur kerja berbasis AI di bidang sains dan rekayasa, termasuk akselerasi penemuan material baru. Microsoft menyatakan Discovery akan tersedia untuk publik dalam waktu dekat.
Tentu ada catatan yang perlu disebut. Proyek Majorana Microsoft tidak pernah benar-benar bebas dari skeptisisme. Sejumlah makalah ilmiah yang menyertai generasi pertama sempat dipertanyakan komunitas kuantum, bahkan beberapa penelitian terdahulu yang didukung Microsoft pernah ditarik kembali. Alam mengakui perusahaan memilih berbagi data secara penuh hanya dengan tim ilmuwan DARPA. "Ide untuk memberikan seluruh data kami kepada laboratorium lain atau pesaing agar mereka dapat mereproduksi teknologi ini pada dasarnya tidak masuk akal dari sudut pandang bisnis," ujarnya. Masuk akal secara bisnis, memang. Tapi bagi sebagian peneliti, transparansi terbatas itu masih jadi tanda tanya.
Komputer kuantum komersial yang benar-benar berguna masih belum terbukti oleh siapapun, termasuk Google dan IBM. Tiga tahun lagi. Jarak antara demo konferensi dan produk yang bisa dipakai industri, dalam sejarah teknologi, sering kali jauh lebih panjang dari yang dijanjikan panggung.