Pukul 04.00 pagi waktu Singapura, Rabu kemarin, ratusan karyawan Meta terbangun dengan satu email di inbox. Bukan pengumuman rapat, bukan update produk. Mereka dipecat.
Gelombang PHK kali ini menyentuh sekitar 8.000 orang secara global, setara dengan kurang lebih 10 persen dari total tenaga kerja perusahaan yang per akhir Maret masih di bawah 80.000 orang. Karyawan di Asia menjadi yang pertama menerima pemberitahuan, diikuti rekan-rekan mereka di Inggris dan Amerika Serikat sesuai zona waktu. Sasaran utama gelombang ini, menurut sumber internal, adalah tim engineering dan produk.
Ini bukan kejutan. Sejak April lalu, manajemen sudah memberi tahu bahwa 20 Mei adalah harinya. Tapi tahu dan menerima adalah dua hal berbeda. Suasana di kantor-kantor Meta dalam beberapa pekan terakhir mencerminkan itu: sebagian karyawan dilaporkan mulai mengambil camilan gratis dan charger laptop dari kantor sejak awal pekan, seolah bersiap untuk tidak kembali. Rabu kemarin, gedung-gedung Meta nyaris kosong setelah perusahaan meminta semua orang bekerja dari rumah.
Bagi yang terdampak di AS, paket pesangon yang disiapkan cukup substansial. Gaji pokok 16 minggu ditambah dua minggu per tahun masa kerja, plus asuransi kesehatan 18 bulan untuk karyawan dan keluarganya, tiga kali lipat dari ketentuan sebelumnya. Karyawan di luar AS mendapat paket serupa yang disesuaikan regulasi lokal.
Sejak 2022, Meta sudah memangkas lebih dari 30.000 karyawan. Angka yang tidak kecil, bahkan untuk standar Silicon Valley.
Narasi resminya sederhana: bergerak lebih cepat menuju era AI. Kepala SDM Janelle Gale, dalam memo internal yang diverifikasi Bloomberg, menegaskan Meta ingin membangun struktur organisasi lebih datar dengan tim-tim kecil berbentuk pod atau cohort yang punya tanggung jawab lebih besar. "Kami sekarang berada pada tahap di mana banyak organisasi dapat beroperasi dengan struktur yang lebih datar, dengan tim kecil berbentuk pod/cohort yang bisa bergerak lebih cepat dan memiliki tanggung jawab lebih besar," tulis Gale. Bersamaan dengan itu, sekitar 7.000 karyawan lain dipindahkan ke tim baru bernama Applied AI and Engineering di bawah komando Wakil Presiden Engineering Maher Saba. Tim berisi sekitar 2.000 orang itu punya rasio pelaporan yang tidak lazim: satu manajer mengawasi sekitar 50 pegawai.
Ongkosnya? Tidak murah. Meta berkomitmen menggelontorkan lebih dari 100 miliar dollar AS, sekitar Rp 1.764 triliun, untuk investasi AI tahun ini saja. Total belanja modal perusahaan diproyeksikan antara 125 miliar hingga 145 miliar dollar AS, atau sekitar Rp 2.205 triliun hingga Rp 2.557 triliun. Zuckerberg bahkan, kalau data ini bisa dipercaya, sudah memprogram asisten AI pribadinya untuk menangani sebagian tugasnya sebagai CEO, termasuk menghimpun masukan dari karyawan.
Tapi di balik narasi efisiensi itu, ada gesekan yang susah disembunyikan. Lebih dari 1.000 karyawan menandatangani petisi menolak program pelacakan perangkat internal Meta, yang diklaim akan mengumpulkan data sangat rinci dari komputer karyawan: tombol keyboard yang ditekan, gerakan mouse, isi layar. Partisipasi dalam program ini tidak bersifat opsional, kata perusahaan. Di dinding kantor, poster-poster protes bermunculan.
Dua suara internal layak dicatat. Engineer Meta Mack Ward, dalam posting yang meraup lebih dari 2.000 tanda suka, menulis bahwa AI ibarat kereta barang yang melaju kencang tapi arahnya belum sepenuhnya ditentukan. "Belum terlambat untuk menginjak rem dan memikirkan bagaimana kita sebagai masyarakat ingin menghadapi ini," tulisnya. Sementara Chief Technology Officer Andrew Bosworth, dalam sesi tanya jawab internal, tidak basa-basi. "Semuanya buruk. Saya tidak akan mencoba mempermanis situasi ini," ungkapnya, setidaknya itu kejujuran yang lebih berharga ketimbang kalimat korporat standar.
Kritik datang juga dari luar. Jan-Emmanuel De Neve, profesor ekonomi Universitas Oxford, menilai perusahaan yang terlalu mengandalkan otomatisasi berisiko kehilangan daya tarik sebagai tempat kerja. Penghematan jangka pendek, klaimnya, bisa mengorbankan potensi pertumbuhan jangka panjang bila kesejahteraan dan loyalitas karyawan ikut terkikis. Angka-angka kuartal mendatang yang akan membuktikan atau menyanggah klaim itu.
Meta tidak sendirian. Pekan lalu Cisco mengumumkan pemangkasan 4.000 posisi untuk alasan serupa. Microsoft, Block, dan Coinbase sudah lebih dulu bergerak. Bukan lagi anomali, ini sudah jadi template industri teknologi global: pangkas manusia, perbesar mesin. Pertanyaannya, berapa lama formula ini bertahan sebelum ada yang membayar harga sesungguhnya?